Selasa, 22 November 2016

22" Heat Stress

Heat Stress

Yang dimaksud dengan heat stress disini adalah reaksi fisik dan fisiologis pekerja terhadap suhu yang berada diluar kenyamanan bekerja. Paparan panas terhadap tubuh dapat berasal dari lingkungan kerja (panas eksternal), panas yang berasal dari aktivitas kerja (panas internal) dan panas karena memakai pakain yang terlalu tebal. Heat stress terjadi apabila tubuh sudah tidak mampu menseimbangkan suhu tubuh normal karena besarnya beban panas dari luar. Jika tubuh terpapar panas, maka sistem yang ada didalam tubuh akan menpertahankan suhu tubuh internal agar tetap pada suhu normal (36-38 C) dengan cara mengalirkan darah lebih banyak kekulit dan mengeluarkan cairan atau keringat. Pada saat demikian jantung bekerja keras memompa darah ke kulit untuk mendinginkan tubuh, sehingga darah lebih banyak bersirkulasi di daerah kulit luar. Ketika suhu lingkungan mendekati suhu tubuh normal, maka pendinginan makin sulit dilakukan oleh sistem tubuh. Jika suhu luar sudah berada diatas suhu tubuh maka sirkulasi darah dan keringat yang keluar tidak mampu menurunkan suhu tubuh kesuhu normal.  Dalam kondisi seperti ini, jantung terus memompa darah kepermukaan tubuh, kelenjar keringat terus mengeluarkan cairan yang mengandung elektrolit ke permukaan kulit dan penguapan keringat menjadi cara yang efektif untuk mempertahankan suhu tubuh agar tetap konstan. Namun jika kelembaban udara cukup tinggi, maka keringat tidak dapat menguap dan suhu tubuh tidak dapat dipertahankan, dalam kondisi ini tubuh mulai terganggu. Kondisi ini mempengaruhi kemampuan individu untuk bekerja dilingkungan panas. Dengan banyaknya darah mengalir kekulit luar, maka pasokan darah ke otak, otot-otot aktif dan organ internal lainnya menjadi berkurang sehingga kelelahan dan penurunan kekuatan tubuh mulai lebih cepat terjadi. Konsentrasi bekerja juga mulai terganggu.
Bekerja di area panas dapat meningkatkan potensi terjadinya kecelakaan, misalnya karena telapak tangan licin akibat berkeringat, pusing, fogging dari kaca mata safety dan luka bakar jika tersentuh benda panas. Selain dari bahaya ini jelas, frekuensi kecelakaan, secara umum tampaknya lebih tinggi di lingkungan yang panas daripada di kondisi lingkungan yang lebih moderat. Salah satu alasannya adalah bahwa bekerja di lingkungan yang panas menurunkan kewaspadaan mental dan kinerja fisik individu. Peningkatan suhu tubuh dan ketidaknyamanan fisik dapat meningkatkan emosi, kemarahan, dan kondisi emosional lainnya yang kadang-kadang menyebabkan pekerja mengabaikan prosedur keselamatan atau kurang hati-hati terhadap bahaya ditempat kerja.
Paparan berlebihan terhadap lingkungan kerja yang panas dapat mengakibatkan berbagai gangguan terhadap tubuh. Berikut adalah gangguan yang dapat terjadi akibat panas:
Heat Stroke
Heat stroke adalah akibat yang paling serius dari bekerja di lingkungan panas. Hal ini terjadi karena sistem pengatur suhu tubuh tidak mampu mempertahankan suhu tubuh dengan mengeluarkan keringat (keringat terhenti). Suhu tubuh naik secara dramatis, dan korban mengalami gannguan mental serta kejang-kejang. Jika hal ini terjadi, korban harus segera dikeluarkan dari area panas dan ditempatkan diarea dingin, tubuhnya harus dibasahi dengan kain basah untuk menurunkan suhu tubuhnya sebagai pertolongan pertama. Selanjutnya korban harus dibawa kerumah sakit untuk mendapat pertolongan lebih lanjut. Jangan sampai terlambat karena bisa berakibat kematian.
Heat Exhaustion
Heat exhaustion atau kelelahan panas dapat mengalami beberapa gangguan klinis yang dapat menyerupai gejala awal heat stroke. Kelelahan panas diakibatkan oleh hilangnya sejumlah besar cairan tubuh melalui keringat, kadang-kadang disertai kehilangan cairan elektrolit yang berlebihan. Pekerja yang mengalami kelelahan panas masih berkeringat tetapi mengalami kelelahan, pusing, mual atau sakit kepala. Dalam kasus yang lebih serius, korban bisa muntah atau hilang kesadaran, kulit basah atau lembab, pucat atau memerah dan suhu tubuh normal atau sedikit diatas normal. Pada kondisi ini korban harus segera dipindahkan ketempat yang dingin untuk mendapatkan perawatan dan istrihat yang cukup.
Heat Cramps
Heat cramps atau kram panas adalah terjadinya kram atau kejang pada otot-otot akibat kehilangan cairan elektrolit, meskipun sudah minum air secukupnya namun tidak bisa menggantikan garam didalam tubuh, bahkan air yang diminum mengencerkan cairan elektrolit yang ada didalam tubuh dan semakin mempermudah cairan elektrolit tersebut keluar dari tubuh sehingga kadar cairan elektrolit makin rendah, dan hal ini menyebabkan otot mengalami kram yang menyakitkan. Biasanya kram dapat terjadi pada otot kaki, lengan, atau perut. Biasanya otot-otot yang lelah akan lebih mudah kram. Kram dapat terjadi selama satu atau setengah jam, dan dapat dipulihkan dengan meminum cairan yang mengandung elektrolit atau garam.
Fainting
Fainting atau pingsan  bisa terjadi bagi pekerja yang tidak terbiasa bekerja dilingkungan panas. Pada saat bekerja terjadi pembesaran pembuluh darah dibawah kulit dan bagian bawah tubuh untuk mempertahankan suhu tubuh, sehingga darah terkumpul disana dan otak mengalami kekurangan suplai darah. Setelah pekerja yang pingsan dipindahkan ke ruangan yang lebih dingan dan dibaringkan untuk membiarkan darah mengalir ke otak agar korban sadar kembali.
Heat Rash
Heat rash atau biang keringat dapat terjadi pada lingkungan panas yang lembab, dimana keringat tidak bisa menguap dan menempel dikulit atau kulit tetap basah, sehingga memuncukan biang keringat. Untuk menghindari biang keringat pekerja bisa beristirahat diruangan yang dingin dan mandi bersih serta mengeringkan kulit. Jika biang keringatnya parah, maka sebaiknya berobat ke dokter kulit.
Transient Heat Fatigue
Transient heat fatigue adalah kelelahan panas sementara yang terjadi karena ketidaknyamanan akibat paparan panas yang dapat menyebabkan ketegangan mental atau psikologis. Biasanya terjadi pada pekerja yang rentan terhadap panas, dan dapat mengganggu kinerja, koordinasi dan kewaspadaan. Tingkat ketahanan terhadap panas dari pekerja yang suka mengalami transient heat fatigue dapat dinaikkan secara bertahap dengan menyesuaikan diri dengan lingkungan panas.
ACGIH  (American Conference of Industrial Hygienist) memberikan nilai ambang batas (NAB) untuk paparan bekerja dilingkungan panas. Tujuan dari penentuan NAB adalah untuk menjaga agar suhu tubuh berada pada kondisi normal atau dibawah 38 deg C.
ACGIH 2006 TLV Screening Criteria for Heat Stress Exposure (WBGT values in degrees C)
 
Acclimated
Un-acclimated
Work Demands

Light

Moderate

Heavy
Very
Heavy

Light

Moderate

Heavy
Very
Heavy
100% Work
29.5
27.5
26

27.5
25
22.5

75% Work; 25% Rest
30.5
28.5
27.5

29
26.5
24.5

50% Work; 50% Rest
31.5
29.5
28.5
27.5
30
28
26.5
25
25% Work; 75% Rest
32.5
31
30
29.5
31
29
28
26.5
Nilai temperature yang tercantum didalam table diatas adalah merupakan hasil pengukuran dengan menggunakan heat stress monitoring atau dikenal dengan WBGT (baca wibget). Nilai WBGT merupakan fungsi dari kelembaban, radiasi panas dan temperature normal. Jadi tidak bisa hanya diukur dengan thermometer biasa dan kemudian digunakan pada table diatas.
Cara membaca table ACGIH diatas:
Kolom acclimated adalah untuk pekerja yang sudah terbiasa bekerja pada lingkungan panas dan Un-acclimated adalah untuk pekerja yang belum terbiasa bekerja dengan lingkungan panas atau pekerja baru. Biasanya kondisi daya tahan tubuh seseorang bisa menurun jika sudah lama tidak bekerja pada lingkungan panas, maka dalam hal ini digunakan kolom un-acclimated. Jika hasil pembacaan WBGT adalah 28.5 deg C, maka untuk pekerja yang sudah biasa dengan lingkungan panas (acclimated) boleh 50% bekerja dan 50% istirahat untuk kategori pekerjaan berat dalam setiap jamnya, jika pekerjaan sedang maka 75% bekerja dan 25% istirahat dalam setiap jamnya. Namun untuk pekerja yang un-acclimated maka 25% bekerja dan 75% istirahat untuk pekerjaan berat dalam setiap jamnya, atau 50% bekerja dan 50% istirahat untuk pekerjaan sedang dalam setiap jamnya. Definisi beban kerja menurut ACGIH adalah sebagai berikut:
  • Kerja ringan  :Adalah pekerjaan dengan menggunakan mesin dan tidak menggunakan tenaga, pekerja berdiri atau duduk dalam mengoperasikan mesin tersebut.
  • Kerja Sedang  :Berjalan sambil mengangkat atau mendorong benda dengan berat sedang seperting scrubbing dalam posisi berdiri.
  • Berat :Menyekop pasir Bering, memotong dengan gergaji.
  • Sangat berat :Menyekop pasir basah.
Di Indonesia juga ada SNI yang mengatur tentang nilai ambang batas iklim kerja, yaitu SNI 16-7063-2004. Tabel berikut menunjukan nilai ambang batas pengendalian iklim kerja (panas).
Pengaturan waktu kerja setiap jam
ISBB (°C)
Waktu Kerja
Waktu Istirahat
Beban Kerja
Ringan
Sedang
Berat
75%
25%
30.6
28.0
25.9
50%
50%
31.4
29.4
27.9
25%
75%
32.2
31.1
30.0
Kriteria beban kerja menurut SNI:
– Beban kerja ringan membutuhkan kalori 100 – 200 kilo kalori/jam.
– Beban kerja sedang membutuhkan kalori lebih besar 200 – 350 kilo kalori/jam.
– Beban kerja berat membutuhkan kalori lebih besar dari 350–500 kilo kalori/jam.
Keputusan menteri tenaga kerja nomor  KEP–51/MEN/I999 tentang nilai ambang batas faktor fisika di tempat kerja juga memberikan nilai batasan yang sama dengan SNI tersebut diatas.

 

21" Manajemen Standar Untuk Menangani Stress Kerja (Work-Related Stress)

Manajemen Standar Untuk Menangani Stress Kerja (Work-Related Stress)

Stress adalah suatu kondisi yang dinamis saat seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting. Stress adalah beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu sendiri, sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat. Stres tidak selalu buruk, walaupun biasanya dibahas dalam konteks negatif, karena stres memiliki nilai positif ketika menjadi peluang saat menawarkan potensi hasil. Sebagai contoh, banyak profesional memandang tekanan berupa beban kerja yang berat dan tenggat waktu yang mepet sebagai tantangan positif yang menaikkan mutu pekerjaan mereka dan kepuasan yang mereka dapatkan dari pekerjaan mereka. Stres bisa positif dan bisa negatif. Para peneliti berpendapat bahwa stres tantangan, atau stres yang menyertai tantangan di lingkungan kerja, beroperasi sangat berbeda dari stres hambatan, atau stres yang menghalangi dalam mencapai tujuan. Meskipun riset mengenai stres tantangan dan stres hambatan baru tahap permulaan, bukti awal menunjukan bahwa stres tantangan memiliki banyak implikasi yang lebih sedikit negatifnya dibanding stres hambatan. (Sumber Wikipedia).
Mengapa kita perlu untuk mengatasi stress?
  • Sekitar 1 dari 5 orang mengatakan bahwa mereka mengalami stress atau sangat stress dalam pekerjaan mereka.
  • Lebih dari setengah juta orang melaporkan mengalami sakit akibat dari stress pekerjaan.
  • Setiap kasus sakit akibat stress kerja mengakibatkan kehilangan 29 hari waktu kerja. Sebanyak 13,4 juta hari total kehilangan waktu kerja pada tahun 2001.
  • Kerugian atau biaya yang dikeluarkan untuk penyakit akibat stress kerja berkisar antara £ 37 Miliar – £ 38 Miliar setahun (1995-1996).
(Sumber Health and Safety Executive).
Mengingat demikian besarnya dampak kerugian yang diakibatkan oleh stress kerja, maka Health and Safety Executive (HSE) di UK membuat manajemen standar untuk mengatasi atau mengurangi stress di tempat kerja. Guidance atau manajemen standar yang dikeluarkan oleh HSE mencakup enam (6) elemen penting dalam mengendalikan stress kerja ditempat kerja. Jika enam elemen tersebut tidak ditangani dengan baik, maka akan dapat berdampak terhadap kesehatan pekerja, kesejahteraan pekerja, produktivitas kerja, kecelakaan kerja, kenyamanan bekerja, hubungan kerja, dan lain-lain. Enam elemen penting yang harus ditangani secara baik dan berkelanjutan adalah sebagai berikut:
  1. Tuntutan – seperti beban kerja, pola kerja dan lingkungan kerja.
  2. Kontrol – berapa banyak pekerja mengatakan bahwa mereka telah melakukan pekerjaan mereka sesuai SOP namun gagal.
  3. Dukungan – seperti dorongan, motivasi, kelengkapan sumber daya.
  4. Hubungan – misalnya mempromosikan perilaku positif untuk mencegah konflik terhadap perilaku negatif.
  5. Peran/tanggung jawab – apakah para pekerja benar-benar sudah memahami tanggung jawab mereka didalam organisasi dan apakah sudah tidak ada konflik tanggung jawab didalam organisasi.
  6. Perubahan – apakah setiap perubahan sudah dikomunikasikan dengan baik kepada seluruh pekerja.
Berikut akan kita lihat guideline (manajemen standar) untuk masing-masing elemen agar lebih mudah untuk diterapkan ditempat kerja.

Elemen 1: Tuntutan

Standar:
  • Pekerja harus mampu menunjukkan bahwa mereka dapat mengatasi tuntutan kerja yang diberikan kepada mereka.
  • Terdapat sistem atau proses untuk menanggapi setiap keluhan pekerja.
Kondisi yang harus dicapai:
  • Perusahaan memberikan beban kerja atau tuntuan kerja yang sesuai atau dapat dicapai/diselesaikan berdasarkan waktu kerja yang disepakati.
  • Tuntutan pekerjaan yang diberikan disesuaikan dengan keterampilan dan kemampuan pekerja.
  • Pekerjaan yang diberikan harus sesuai dengan kemampuan pekerja.
  • Keluhan pekerja terhadap pekerjaan harus dibicarakan penyelesaiannya.

Elemen 2: Kontrol

Standar:
  • Pekerja dapat menunjukkan bahwa mereka mampu menjelaskan cara kerja yang mereka lakukan.
  • Terdapat sistem atau proses untuk menanggapi setiap keluhan pekerja.
Kondisi yang harus dicapai:
  • Pekerja harus mampu mengontrol pekerjaan mereka.
  • Perusahaan mendoronga pekerja untuk menggunakan keterampilan dan inisiatip dalam melakukan pekerjaan mereka.
  • Perusahaan mendorong pekerja untuk mengembangkan keterampilan baru untuk membantu mereka dalam mengahadapi tantangan baru didalam bekerja.
  • Perusahaan mendorong pekerja untuk mengembangkan keterampilan mereka.
  • Pekerja memiliki otoritas untuk mengambil waktu istirahat.
  • Pekerja dapat berkonsultasi atas pola kerja mereka.

Elemen 3: Dukungan

Standar:
  • Pekerja dapat menunjukkan bahwa mereka menerima informasi dan dukunganyang memadai dari atasan dan rekan-rekan kerja mereka.
  • Terdapat sistem atau proses untuk menanggapi setiap keluhan pekerja.
Kondisi yang harus dicapai:
  • Perusahaan harus memiliki kebijakan dan prosedur yang cukup untuk mendukung pekerja.
  • Terdapat sistem atau proses yang memungkinkan manajer untuk mendorong dan mendukung staff mereka.
  • Terdapat sistem atau proses yang memungkinkan pekerja secara aktif mendorong dan mendukung rekan-rekan kerja mereka.
  • Pekerja mengetahui dukungan apa yang tersedia dan bagaimana untuk mengaksesnya.
  • Pekerja mengetahui bagaimana untuk mengakses sumber daya yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan mereka.
  • Pekerja menerima umpan balik secara berkala dan konstruktif.

Elemen 4: Hubungan

Standar:
  • Pekerja menunjukkan bahwa mereka tidak mengalami perlakuan yang tidak dapat diterima, misalnya intimidasi ditempat kerja.
  • Terdapat sistem atau proses untuk menanggapi setiap keluhan pekerja.
Kondisi yang harus dicapai:
  • Perusahaan mempromosikan perilaku positip ditempat kerja untuk menghindari konflik dalam menjamin keadilan.
  • Pekerja berbagi informasi yang relevan dengan pekerjaan mereka.
  • Perusahaan memiliki kebijakan dan prosedur untuk mencegah perilaku atau perlakuan yang tidak dapat diterima.
  • Terdapat sistem atau proses yang memungkinkan dan mendorong manajer untuk menangani perilaku atau perlakuan tidak dapat diterima.
  • Terdapat sistem atau proses yang memungkinkan atau mendorong pekerja untuk melaporkan perilaku atau perlakuan yang tidak dapat diterima.

Elemen 5: Peran dan Tanggung Jawab

Standar:
  • Pekerja dapat menunjukkan bahwa mereka memahami peran dan tanggung jawab mereka didalam pekerjaan mereka.
  • Terdapat sistem atau proses untuk menanggapi setiap keluhan pekerja.
Kondisi yang harus dicapai:
  • Perusahaan harus memastikan penempatan pekerja pada tempat yang sesuai.
  • Perusahaan harus memberikan dan menyediakan informasi yang memungkinkan pekerja untuk memahami peran dan tanggung jawab mereka.
  • Perusahaan harus membuat persyaratan yang jelas untuk setiap peran dan tanggung jawab kerja.
  • Terdapat sistem atau proses yang memungkinkan pekerja untuk menyampaikan setiap konflik atau masalah yang muncul didalam peran dan tanggung jawab kerja mereka.

Elemen 6: Perubahan

Standar:
  • Pekerja dapat menunjukkan bahwa perusahaan melibatkan mereka didalam melakukan perubahan.
  • Terdapat sistem atau proses untuk menanggapi setiap keluhan pekerja.
Kondisi yang harus dicapai:
  • Perusahaan memberikan kesempatan atau waktu yang cukup kepada pekerja untuk memahami alasan-alasan perubahan yang diusulkan.
  • Perusahaan memberikan kesempatan kepada pekerja untuk berkonsultasi tentang perubahan dan memberikan kesempatan kepada pekerja untuk memberikan masukkan.
  • Pekerja menyadari dampak dari setiap perubahan pekerjaan dan jika perlu pekerja diberikan training untuk mendukung perubahan tersebut.
  • Pekerja mengetahui waktu atau jadual untuk perubahan.
  • Pekerja memiliki akses untuk mendapatkan dukungan yang relevan selama perubahan.
Bagaimana tahapan penerapan guideline penanganan stress ditempat kerja?
Ada lima (6) tahapan yang harus dilakukan dalam menerapkan standar ini, yaitu:
  1. Menyiapkan organisasi untuk menerapkan manajemen standar penanganan stress ditempat kerja, seperti komitmen top manajemen untuk mendukung program ini, menyediakan sumber daya yang cukup dan team yang akan bekerja untuk program ini.
  2. Melakukan identifikasi faktor-faktor risiko stress ditempat kerja dengan terlebih dahulu memahami standar penanganan stress ditempat kerja.
  3. Mengumpulkan data-data pekerja yang mengalami stress dan bagaimana hal tersebut dapat terjadi.
  4. Melakukan evaluasi terhadap data-data stress yang diperoleh dan mencari solusi yang mungkin dilakukan.
  5. Membuat rencana tindakan atau program penanganan stress dan menerapkan rencana tersebut.
  6. Melakukan tinjauan ulang dan kajian efektifitas program penanganan stress yang diterapkan.

sumber http://healthsafetyprotection.com/manajemen-standar-untuk-menangani-stress-kerja-work-related-stress/

 

20" Alat Pelindung Pendengaran (Hearing Protection)

Alat Pelindung Pendengaran (Hearing Protection)

Bagaimana melindungi pendengaran dari kebisingan?
Metode untuk mencegah tuli akibat kerja adalah dengan mengurangi kebisingan dari sumbernya dengan metode rekayasa. Namun, dalam kondisi kerja tertentu, sangat sedikit atau tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengurangi kebisingan pada sumbernya. Di tempat kerja seperti ini, pekerja mengenakan pelindung pendengaran (hearing protection) untuk mengurangi jumlah suara mencapai telinga.
Apa beberapa hal yang harus diketahui tentang cara memilih alat perlindung pendengaran?
Kita harus memakai pelindung pendengaran (hearing protection) jika kebisingan atau tingkat suara di tempat kerja melebihi 85 desibel. Pelindung pendengaran berfungsi mengurangi tingkat kebisingan paparan dan risiko gangguan pendengaran.
Jika perlindungan pendengaran (hearing protection) diperlukan, maka program konservasi pendengaran yang lengkap sebaiknya dikembangkan. Sebuah program konservasi pendengaran meliputi penilaian kebisingan, pemilihan alat pelindung pendengaran, pelatihan karyawan, pengujian audiometri, pemeliharaan, inspeksi, pencatatan, dan evaluasi program.
Efektivitas perlindungan pendengaran (hearing protection) akan sangat berkurang jika alat pelindungan pendengaran tidak fit atau tepat saat digunakan atau jika hanya dikenakan sebagian waktu selama periode paparan kebisingan. Untuk menjaga efektivitas alat pelindung, maka alat pelindung pendengaran tersebut tidak boleh dimodifikasi
Pemilihan alat pelindung pendengaran (hearing protection) berdasarkan pada:
  • Kesesuaian dengan jenis pekerjaan.
  • Memberikan perlindungan yang memadai. Periksa literatur produsen.
  • Nyaman untuk dipakai.
Apa jenis pelindung pendengaran (hearing protection) yang tersedia?
Ada tiga jenis alat pelindung pendengaran (hearing protection), yaitu:
  1. Ear Plug  dimasukkan untuk memblokir saluran telinga. Ear plug berbentuk premolded (preformed) atau moldable (busa). Ear plug umumnya dijual sebagai produk sekali pakai (disposable) atau dapat digunakan kembali (reusable).
  2. Semi-insert ear plugs à terdiri dari dua ear plug yang dipasang diujung head band.
  3. Ear muff  Penutup telinga yang terbuat dari bahan yang lembut yang dapat menurunkan kebisingan dengan cara menutupi semua bagian telinga dan ditahan/dipegang oleh head band.
 Bagaimana cara memilih alat pelindung pendengaran (hearing protection) yang tepat?
Pilihan alat pelindung pendengaran sangat tergantung pada sejumlah faktor termasuk tingkat kebisingan, kenyamanan, dan kesesuaian alat pelindung pendengaran bagi pekerja dan lingkungannya. Yang paling penting, alat pelindung pendengaran harus memberikan pengurangan kebisingan yang diinginkan. Jika paparan kebisingan adalah intermiten, maka ear muff  lebih tepat digunakan, karena mungkin kurnag nyaman untuk memasukan dan mengeluarkan ear plug.
Bagaimana saya bisa mengetahui berapa besar alat pelindung pendengaran bisa mengurangi paparan kebisingan?
Produsen memberikan informasi tentang kemampuan pengurangan kebisingan dari alat pelindung pendengaran atau dikenal dengan NRR (Noise Reduction Rating). Nilai NRR didasarkan pada pengurangan kebisingan yang diperoleh dalam kondisi laboratorium.
Bagaimana cara menggunakan nilai NRR untuk menentukan perlindungan yang diberikan oleh alat pelindung pendengaran (hearing protection)?
NIOSH merekomendasikan menggunakan data sesuai dengan subjek berdasarkan ANSI S12.6-1997 untuk memperkirakan redaman kebisingan pelindung pendengaran.
Jika data sesuai subjek tidak tersedia, NIOSH merekomendasikan de-rating pelindung pendengaran dengan faktor yang sesuai dengan data yang tersedia. Secara khusus, NIOSH merekomendasikan bahwa label NRRs akan de-rated sebagai berikut:
• Ear Muff – Kurangi 25% dari label NRR produsen
• Formable ear plug – Kurangi 50% dari label NRR produsen
• Semua jenis ear plug yang lain – Kurangi 70% dari label NRR produsen
Actual Noise Reduction Rating (NRR) juga dapat dihitung dengan rumus berikut:
Actual NRR      = (NRR – 7) / 2
Contoh:
NRR = 29dB (dari label manufaktur)
Actual NRR       = (NRR – 7) / 2
Actual NRR       = (29 – 7)/ 2 = 11 dB
Maka actual NRR dari alat pelindung tersebut adalah 11 dB.
Apa keuntungan dan keterbatasan dari ear plug dan ear muff?
Ear plug dapat diproduksi secara massal atau secara individu dibentuk agar sesuai dengan telinga, dan ear plug dapat digunakan kembali atau sekali pakai. Di sisi positif, ear plug mudah digunakan, lebih murah dari pada ear muff, dan lebih nyaman dalam wilayah kerja panas atau lembab. Di sisi negatif, ear plug kurang memberikan perlindungan jika dibandingkan dengan ear muff, dan tidak boleh digunakan di daerah yang memiliki tingkat kebisingan lebih dari 105 dB. Ear plug tidak terlihat saat digunakan sebagaimana halnya ear muff sehingga pengawas tidak mudah untuk melihat apakah pekerja memakainya. Dan ear plug harus benar dimasukkan untuk memberikan perlindungan yang memadai.
Ear Muff dapat bervariasi berdasarkan bahan, kedalaman penutup, dan kekuatan ikat kepala (head band). Penutup yang lebih dalam dan lebih berat, akan semakin memberikan perlindungan yang lebih baik. Ikat kepala harus cukup erat dan kuat untuk mempertahankan posisi yang stabil, namun tidak terlalu ketat untuk kenyamanan. Di sisi positif, ear muff biasanya dapat memberikan perlindungan lebih besar dari pada ear plugs.  Ear muff lebih mudah untuk menyesuaikan, umumnya lebih tahan lama dari ear plugs, dan ear muff memiliki bagian yang dapat diganti. Di sisi negatif, ear muff lebih mahal, dan sering kurang nyaman daripada ear plugs, khususnya di wilayah kerja panas. Di daerah di mana tingkat kebisingan yang sangat tinggi, ear muff dan ear plug dapat dipakai bersama-sama untuk memberikan perlindungan yang lebih baik.
Tabel berikut merangkum perbedaan antara ear plugs dan ear muff:
Ear Plugs Ear Muff
Keuntungan:
  • kecil dan mudah dibawa
  • Nyaman untuk digunakan dengan peralatan perlindungan pribadi lainnya (bisa dikenakan dengan ear muff)
  • Llebih nyaman dipakai untuk waktu yang lama di tempat yang panas atau lembab.
  • Nyaman untuk digunakan di daerah kerja terbatas
Keuntungan:
  • Variabilitas atunuasi antar pengguna sedikit.
  • Dirancang sedemikian rupa sehingga satu ukuran cocok  semua ukuran kepala.
  • Mudah terlihat di kejauhan untuk membantu dalam pemantauan penggunaan
  • Tidak mudah salah tempat atau hilang
  • Dapat dipakai pada pekerja dengan infeksi telinga ringan
Kerugian:
  • Mmbutuhkan lebih banyak waktu untuk menyesuaikan.
  • Lebih sulit untuk memasukkan dan mengeluarkan
  • Memerlukan praktik kebersihan yang baik
  • Dapat mengiritasi saluran telinga
  • Mudah salah penempatan
  • Lebih sulit untuk melihat dan memantau penggunaan
Kerugian:
  • Kurang portable dan lebih berat
  • Kurang nyaman untuk digunakan dengan peralatan pelindung pribadi lainnya.
  • Kurang nyaman di tempat yang panas dan lembab.
  • Kurang nyaman untuk digunakan di daerah kerja terbatas
  • Dapat terganggu jika memakai kacamata keselamatan: aka ada celah antara seal ear muff dengan kulit karena terganjal frame kaca mata yang berakibat penurunan perlindungan pendengaran
Mengapa begitu penting preferensi pengguna?

Aspek manusia dalam pemilihan alat perlindungan pendengaran (hearing protection) adalah sangat penting karena alat pelindungan pendengaran akan efektif jika digunakan secara benar oleh pengguna. Mungkin beberapa orang tidak cocok dengan jenis tertentu dari alat pelindung; setiap manusia berbeda,  anatomi telinga dan saluran telinga dapat bervariasi secara signifikan dari orang ke orang.
Sebaiknya management menyediakan beberapa jenis alat perlindungan pendengaran (hearing protection) sehingga para pekerja dapat memilih yang sesuai dengan mereka. Harap selalu diingat faktor keselamatan dan hygiene dalam memilih alat pelindung pendengaran. Artinya, jenis tertentu dari pelindung tidak boleh digunakan jika tingkat kebisingan yang terlalu tinggi atau jika terbukti tidak memadai dari sudut pandang higienis. Sebagai contoh, ear plugs yang digunakan berulang ulang tanpa memperhatikan kebersihan, dapat memasukkan kotoran dan bakteri ke dalam telinga, dan dapat menyebabkan infeksi telinga.
Intinya adalah jika pekerja merasa tidak cocok dengan jenis alat perlindungan (misalnya, tidak nyaman, tidak terlalu pas, atau tidak praktis), mereka tidak akan memakainya.
Apa yang harus diketahui tentang fit dari alat pelindung pendengaran (hearing protection)?

Ikuti instruksi manufaktur. Untuk ear plug, misalnya, telinga harus ditarik ke luar dan ke atas dengan tangan yang berlawanan untuk memperbesar dan meluruskan saluran telinga, dan masukkan ear plug dengan tangan yang bersih. Pastikan ear plug masuk dan menutup saluran telinga secara maksimal, atau penutup ear muff menutup rapat dan menempel dikulit secara maksimal.
Apa yang terjadi pada tingkat perlindungan ketika alat pelindung pendengaran hanya digunakan  untuk periode waktu yang singkat?

Dalam rangka untuk mendapatkan manfaat penuh, pelindung pendengaran harus dikenakan sepanjang waktu selama bekerja dalam kebisingan. Jika pelindung pendengaran dikeluarkan hanya untuk jangka waktu pendek, perlindungan secara substansial berkurang. Tabel berikut memberikan perlindungan maksimum yang disediakan untuk non-kontinyu penggunaan alat pelindung yang dipasang “100%” fit melindungi. Sebagai contoh jika seseorang melepas pelindung pendengaran selama 5 menit dalam pergeseran 8-jam, perlindungan maksimal akan menjadi 20 dB. Tabel berikut memberikan contoh-contoh lainnya. 
Perlindungan Maksimum dari Penggunaan
Alat Pelindung Pendengaran Secara Tidak Kontinu
Persen Waktu Pemakaian
Maksimum Perlindungan
50%
3 dB
60%
4 dB
70%
5 dB
80%
7 dB
90%
10 dB
95%
13 dB
99%
20 dB
99.9%
30 dB
Maka gunakanlah selalu secara penuh waktu alat pelindung pendengaran untuk mendapatkan perlindungan maksimum.
Bagaimana merawat alat perlindungan pendengaran?
  • Ikuti petunjuk produsen.
  • Periksa secara teratur untuk memeriksa kerusakan dan keausan.
  • Ganti bantal telinga atau colokan yang tidak lentur lagi.
  • Ganti unit head band apabila sudah longgar sehingga penutup telingga tidak menempel dengan sempurna.
  •  Bongkar ear muff untuk dibersihkan.
  •  Cuci ear muff dengan deterjen cair ringan di air hangat, dan kemudian bilas dengan air hangat. Pastikan bahwa bahan peredam suara di dalam penutup telingga tidak basah.
  • Gunakan sikat yang halus untuk menghilangkan minyak dan kotoran yang dapat mengeraskan bahan  penutup telinga.

sumber http://healthsafetyprotection.com/alat-pelindung-pendengaran-hearing-protection/

 

19" Mekanisme Alat Perlindungan Pernapasan (Respirator)

 Mekanisme Alat Perlindungan Pernapasan (Respirator)

Respirator atau lebih popular dikenal dengan masker adalah alat yang digunakan untuk perlindungan pernapasan terhadap udara yang terkontaminasi. Sebenarnya istilah masker kurang tepat digunakan untuk respirator. Masker umumnya digunakan untuk melindungi lingkungan dari kontaminan dari pengguna masker, misalnya para pekerja di industri makanan menggunakan masker untuk melindungi makanan dari kontaminasi air ludah pekerja, atau suster di rumah sakit menggunakan masker untuk melindungi pasien dari kontaminasi suster atau dokter. Karena masker tidak fit kewajah sehingga tidak bisa digunakan untuk melindungi sipemakai. Sementara respirator harus fit kewajah sehingga bisa melindungi sipengguna dari kontaminan lingkungan. Secara garis besar respirator terbagi menjadi empat jenis , yaitu:
  1. Nonpower Air Purifying Respirator (NAPR)
  2. Powered Air-Purifying Respirator (PAPR)
  3. Supplied-Air Respirator (SAR)
  4. Self Contained Breathing Apparatus (SCBA)
Berikut akan dijelaskan secara ringkas ke empat jenis respirator tersebut diatas.
1.    Nonpower Air Purifying Respirator (NAPR)
NAPR adalah pemurni udara dari kontaminan dan hanya dapat digunakan pada atmosfer yang mengandung oksigen minimal 19.5%. NAPR memurnikan udara yang terkontaminasi oleh partikel, aerosol, uap dan gas sebelum udara tersebut masuk kedalam sistem pernapasan. Aliran udara kedalam sistem pernapasan melalui NAPR dialirkan secara alami oleh pernapasan sipengguna tanpa adanya bantuan dari sistem lain. Ada dua jenis NAPR yaitu Respirator gas & uap dan particulate respirator.
Respirator Gas dan Uap
Respirator gas dan uap umumnya dikenal dengan “Chemical Cartridge Respirator atau Gas Masks”. Perbedaannya adalah kalau gas masks menggunakan elemen pemurni udara yang disebut canister dengan ukuran lebih besar dari cartridge yang digunakan pada chemical cartridge respirator. Gas dan uap ditangkap oleh sorbent (bahan penyerap gas dan uap) dan menyimpannya, kemampuan serap sorbent sangat tergantung dari jenis dan luas permukaan yang dapat menyerap uap dan gas. Umumnya sorbent memiliki permukaan luas yaitu sekitar 1500 m2 / gram. Gas atau uap yang melewati sorbent akan terikat pada permukaan sorben baik secara fisik atau secara kimia yang dikenal dengan absorbsi. Absorbsi adalah kemampuan sorben untuk mengikat melekul gas atau uap baik secara kimia atau fisika. Biasanya daya ikat fisik dari sorben lemah dan bisa lepas kembali. Ikatan kimia biasanya lebih kuat dari ikatan fisik, untuk uap dan gas biasanya digunakan karbon aktif yang sudah ditreatmen atau ditambahkan dengan bahan kimia khusus agar besifat selective untuk mengikat gas atau uap tertentu. Ikatan kimia biasanya tidak bersifat reversible seperti halnya ikatan fisik. Catridge dan canister memiliki kemampuan serap yang tinggi pada awal penggunaan dan akan mengalami penurunan hingga akhir masa pakai (masa jenuh). Lama masa jenuh sangat tergantung dari konsentrasi uap atau gas diudara dan perawatan terhadap respirator tersebut. Canister atau catridge harus diganti sebelum jenuh, tidak ada ketentuan yang ditetapkan oleh OSHA berapa lama catridge atau canister bisa digunakan, tapi OSHA memberikan petunjuk kapan harus dilakukan penggantian. Ada dua metoda yang dapat dilakukan untuk mengetahui apakah catridge atau canister sudah harus diganti, yaitu pertama yaitu dengan melihat indikator end of service life yang terdapat pada canister atau catridge dan yang kedua adalah dengan mengembangkan jadual penggantian berdasarkan petunjuk OSHA. Informasi penggantian dapat diperoleh dari pembuat atau pemasok respirator tersebut. Respirator gas dan uap ini tidak boleh digunakan pada kondisi IDLH (Immediate Dangereous to Life and Health) atmosfir atau kondisi konsentrasi oksigen dibawah 19.5%. Gas masker boleh digunakan untuk proses penyelamatan jika tidak kekurangan oksigen (>19.5%). Respirator gas dan uap tidak boleh digunakan untuk masuk kekondisi lingkungan yang memiliki konsentrasi uap atau gas dengan tingkat bahaya yang tinggi dan menunjukkan tingkat kehidupan yang rendah pada konsentrasi maksimum. Ada respirator khusus untuk bahan kimia berbahaya seperti vinil klorida dan formaldehid yang telah disetujui oleh NIOSH, karena pengunaan respirator uap organik biasa tidak bisa digunakan karena keterbatasan kemampuan sorben. Anda sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan pembuat atau pemasok dalam menentukan jenis respirator yang akan digunakan dan hendaklah selalu mengacu pada standar internasional yang sudah ditetapkan.
Particulate Respirators
Particulate respirator digunakan untuk memurnikan udara dari partikel-partikel yang tersuspensi di udara (aerosol). Filter dari respirator menangkap partikel atau aerosol dari udara dengan metoda penyaringan, sehingga udara yang melewati respirator menjadi bersih dari particulate. Mekanisme filtrasi oleh fiber ini disebut juga penyaringan secara mekanik, dan ini akan sangat tergantung dari kerapatan (density serat dari filter. Untuk meningkatkan daya saring dari respirator, biasanya diberikan muatan listrik statis (elektrostatis) pada bahan fiber sehingga mampu menyaring partikel yang jauh lebih kecil. Efisiensi dari penyaring partikel juga sangat ditentukan oleh ukuran partikel, secara umum partikel dengan ukuran 0.1 – 1.0 mikron sangat sulit untuk ditangkap, artinya tingkat penetrasinya tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa partikel dengan ukuran 0.3 mikron adalah partikel yang paling tinggi tingkat penetrasinya atau paling sulit untuk ditangkap. Maka partikel dengan ukuran 0.3 mikron dijadikan standar untuk menentukan efisiensi dari suatu respirator partikel. Sebagai contoh jikan suatu repirator memiliki spesifikasi N95, ini artinya bahwa respiraor tersebut memiliki efesiensi penyaring 95% terhadap partikel dengan ukuran 0.3 mikron. NIOSH mengklasifikasikan nonpowerd air-purifying respirator menjadi 3 series, yaitu :
  1. N Series – Not resistant to Oil. Respirator dengan kode N menunjukkan bahwa respirator tersebut tidak bisa digunakan dalam lingkungan atau atmosfer yang mengadung oil aerosol, atau hanya bisa digunakan untuk area yang free dari oil aerosol atau partikel yang berminyak.
  2. R series – Resistant to Oil. Dapat digunakan untuk lingkungan yang mengandung oil aresol di atmosfernya atau partikel yang berminyak.
  3. P series – Oil Proof. Dapat digunakan untuk lingkungan yang mengandung oil aresol di atmosfernya atau partikel yang berminyak.
Selanjutnya NIOSH juga mengklasifikasikan efesiensi dari respirator ini menjadi tiga kelas tingkatan penetrasi, yaitu:
  1. Keals 100%, yaitu repirator yang mampu menyaring partikel dengan ukuran 0.3 mikron hingga >/=99.97% (efesiensi >/=99.97%)
  2. Kelas 99%, yaitu respirator yang mampu menyaring partikel dengan ukuran 0.3 mikron hingga >/=99% (efisiensi >/=99%)
  3. Kelas 95%, yaitu respirator yang mampu menyaring partikel dengan ukuran 0.3 mikron hingga >/=95% (efisiensi >/=95%)
Sekali lagi yang harus digaris bawahi adalah bahwa penentuan kelas tersebut diatas adalah berdasarkan pengujian dengan menggunakan partikel yang paling tinggi tingkat penetrasinya yaitu 0.3 mikron. Artinya partikel-partike dengan ukuran yang lebih besar atau lebih kecil dari 0.3 mikron akan memiliki tingkat penetrasi yang lebih rendah atau efisiensi dari respirator tersebut akan lebih tinggi terhadap partikel-partikel tersebut.
2. Powered Air-Purifying Respirator (PAPR)
PAPR adalah respirator pemurni udara dengan menggunakan pompa udara untuk mendorong atau menarik udara menuju respirator atau penyaring. Umumnya pompa atau blower udara tersebut menggunakan baterai.Adabentuk PAPR yaitu half mask, full facepiece, loose fitting facepiece helmets or hoods. NIOSH hanya mensyaratkan bahwa PAPR harus menggunakan HEPA filter efesiensi tinggi yang sudah diuji ketahanannya terhadap panas pada kondisi uji yang sudah ditetapkan. Karena PAPR adalah sistem pemurnian udara maka PAPR tidak boleh digunakan pada area Immediate Dangerous to Life and Health (IDLH) atau pada area yang kondisi atmosfernya mengandung oksigen dibawah 19.5%.
3. Supplied-Air Respirator (SAR)
SAR merupakan respirator dengan sistem pemberian udara segar dari luar area yang terkontaminasi, supply udara menggunakan selang dari tanki penyimpanan udara. SAR tidak memiliki filter kontaminan udara ataupun catridge. Jadi kualitas udara yang disuplai sangat tergantung dari udara luar sumber penyimpan udara eksternal. SAR juga hanya digunakan untuk lingkungan yang bukan IDLH. Ada tiga tipe SAR yaitu tipe A, B dan C. Tipe A dan B dikenal dengan masker selang dan tidak banyak digunakan. Tipe C dikenal dengan airline respirator yang dapat dilengkapi dengan half mask, full facepiece dan loose fitting facepiece helmets or hoods dengan tekanan udara tidak lebih dari 125 psi yang disuplai dengan selang udara. Jika menggunakan sistem tightfitting respiratory inlet coverings maka minimum aliran udara adalah 115 Lpm dan jika menggunakan loose-fitting respiratory inlet coverings maka minimum aliran udara adalah 170 Lpm. Dan Maksimum aliran udara untuk airline respirator adalah 425 Lpm. NIOSH mensertifikasi tipe “CE” mengacu pada tipe C SAR yang dirancang untuk abrasif blasting yang memiliki penutup bagian luar untuk melindungi pemakainya dari pantulan balik dari bahan abrasif. Panjang selang untuk perangkat tipe C diperolehkan 15, 25, atau 50 ft  sampai dengan maksimum 300 ft. Maksimum tahanan inhalasi dan exhalasi adalah 50mmH2O.
4. Self Contained Breathing Apparatus (SCBA)
Self Contained Breathing Apparatus atau dikenal dengan SCBA adalah alat bantu atau pernapasan untuk waktu tertentu sesuai dengan jumlah oksigen yang tersedia pada alat tersebut. SCBA menyimpan udara (oksigen) terkompresi, terkompresi atau oksigen cair, atau bahan kimia yang menghasilkan oksigen. Alat ini tidak memerlukan pasokan udara dari tempat lain atau dari luar. SCBA diklasifikasikan sebagai open-circuit atau closed circuit devices. Dalam rangkaian terbuka (open circuit) aliran pernapasan dibuang keluar atau ke atmosfer. Dan dalam rangkaian tertutup (closed circuit) aliran pernapasan disimpan didalam respirator untuk selanjutnya ditangkap CO2 dan moisture yang ada dan direkondisi dengan oksigen segar.
SCBA biasanya digunakan pada area yang kontaminasi udaranya sangat tinggi, sehingga perlu juga diperhatikan kemungkinan paparan terhadap tubuh seperti kulit. Uap dan gas tertentu pada konsentrasi tinggi dapat merusak bagian tubuh lain selain pernapasan. Misalnya udara yang terkontaminasi ammonia pada konsentrasi sekitar 3% dapat menyebabkan luka bakar pada kulit. Asam Hydrocyanic dalam bentuk gas, pada suhu sedikit diatas suhu kamar dapat menembus kulit dan menyebabkan keracunan sistemik. Untuk menghindari potensi bahaya terhadap bagian tubuh lain, maka sangat disarankan untuk memilih pakaian pelindung yang tepat.

18" Jenis-Jenis Alat Pemadam Kebakaran Portable (Portable Fire Extinguisher)

Jenis-Jenis Alat Pemadam Kebakaran Portable (Portable Fire Extinguisher)

Alat pemadam portable didisain untuk digunakan oleh seseorang yang menemukan adanya api atau kebakaran. Jenis alat pemadam yang digunakan tergantung dari jenis bahan yang terbakar. Berikut akan dijelaskan secara ringkas beberapa jenis alat pemadam portable.

I. Water (gas cartridge type) extinguishers, Warna Merah

Alat pemadam ini menggunakan air dan karbon dioksida sebagai baham pemadam. Jenis pemadam ini cocok untuk memadamkan api yang membakar kertas dan kayu. Dan tidak boleh digunakan pada area-area yang terdapat peralatan yang menggunakan listrik atau cairan kimia organic yang tidak larut didalam air. Akhir-akhir ini sudah dikembangkan alat pemadam yang menggunakan air yang mengandung foaming agent (bahan pembentuk busa) yang dikenal dengan AFFF yang dapat digunakan untuk kebakaran pada cairan kimia mudah terbakar dan peralatan listrik.

II. Carbon dioxide extinguishers, warna hitam

Jenis pemadam ini menggunakan CO2 (karbon dioksida) sebagai bahan pemadam. Alat pemadan ini akan mengeluarkan awan karbon dioksida dan partikel COP padat pada saat digunakan. Jenis pemadam ini digunakan untuk area dimana terdapat peralatan elektronik sehingga peralatan tersebut tidak rusak, seperti instrument laboratorium, server, komputer, dsb.  Jenis pemadam ini tidak boleh digunakan pada area confine space atau basemen karena awan karbon dioksida dapat membahayakan bagi personel kebakaran itu sendiri.  Jenis pemadan CO2  ini juga tidak boleh digunakan untuk kebakaran bahan logam atau metal.

III. Halon (bromochlorofluoromethane BCF type) extinguishers, Warna Hijau

Alat pemadam ini menggunakan gas Halon sebagai bahan pemadam.  Alat pemadam jenis ini digunakan di pabril, laboratorium atau area workshop dimana terdapat kemunkinan minyak dan bahan mudah terbakar. Tapi jenis pemadan ini tidak bias digunakan untuk area-area dimana terdapat peralatan elektronik. Jenis pemadam ini dikembangkan untuk memadam kebakaran pada pesawat udara. Alat pemadam ini mengeluarkan uap dan gas yang menyelimuti api dan menyingkirkan oksigen sehingga dapat memadamkan api. Atom Bromin merupakan terminator dari proses oksidasi yang terjadi pada saat kebakaran. Salah satu kelemahan dari jenis pemadam ini adalah jika terdapat logam yang terbakar maka BCF dapat terdegradasi dan membentuk hydrogen halide yang bersifat beracun dan korosif. Jika digunakan pada area confine space maka diperlukan ventilasi yang cukup.

IV.    Powder extinguishers (gas cartridge type), Warna Biru

Jenis pemadam ini mengandung serbuk kering yang bersifat inert seperti serbuk silica yang dicampur dengan serbuk sodium bikarbonat. Serbuk dipompa keluar tabung dengan bantuan gas karbon dioksida yang berasal dari catridge. Serbuk yang dikeluarkan akan menyelimuti bahan yang terbakar sehingga memisahkan oksigen yang merupakan salah satu kompenen kebakaran. Adanya karbon dioksida juga akan menyingkirkan oksigen sehingga dapat memadamkan api. Sangat tidak disarankan untuk digunakan pada area yang terdapat peralatan produksi atau instrument produksi yang sangat bernilai, karena serbuk-serbuk pemadam dapat merusak komponen-komponen peralatan tersebut.

V. Foam extinguishers (gas cartridge type), Warna Krem

Jenis pemadam  ini menggunakan bahan kimia yang dapat membentuk busa yang stabil dan didorong dengan karbon dioksida pada saat keluar dari tabung. Foam yang keluar akan menyelimuti bahan yang terbakar sehingga dapat memadamkan api karean oksigen tidak bisa masuk untuk proses kebakaran. Jenis pemadam ini dapat digunakan pada area dimana jenis pemadam air tidak bisa digunakan. Seperti pada area yang terdapat minyak yang tidak bisa bercampur dengan air.

 sumber http://healthsafetyprotection.com/jenis-jenis-alat-pemadan-portable-portable-fire-extinguisher/

17" Kajian Budaya dan Perilaku K3

Kajian Budaya dan Perilaku K3

Ada beberapa jenis metodologi yang digunakan dalam melakukan kajian perilaku dan budaya keselamatan dalam suatu organisasi dengan tujuan yang berbeda-beda. Kajian perilaku dan budaya keselamatan dapat dilakukan untuk melihat pada tahap mana perilaku dan budaya keselamatan suatu organisasi berada atau untuk melihat hubungan antara tingkat kecelakaan dengan perilaku dan budaya keselamatan. Setiap organisasi selalu memiliki ciri-ciri atau karakteristik sendiri-sendiri. Untuk melihat ciri dan karakteristik tersebut dapat dilakukan dengan metode survey pada seluruh pegawai dan juga pada organisasi. Data yang dinginkan dapat diperoleh melalui metode wawancara, kuesioner, diskusi kelompok terfokus maupun dengan cara pengamatan. Tentunya setiap metode yang ada mempunyai kelebihan dan keterbatasannya sendiri-sendiri. Data yang diperoleh tentunya ada yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif dan masing-masing membutuhkan cara analisis tersendiri untuk memperolah suatu kesimpulan yang tepat.

1.   Penyebaran Angket (Questionare)

Metode yang paling sering digunakan dalam berbagai penelitian perilaku dan budaya keselamatan adalah penyebaran angket secara langsung kepada para pekerja untuk mendapat informasi dan data. Angket digunakan di dalam survey atau sensus untuk memperoleh laporan fakta, sikap dan pernyataan subjektif lainnya. Ada tiga perspektif teori yang harus diperhatikan dalam membuat angket, yaitu (Martin, 2006):
1.     Model Standar (The Model of the Standardized Survey Interview)
Menurut teori ini angket harus terdiri dari pertanyaan standar dengan tolok ukur yang sama sehingga jawaban atau respon dari responden dapat dibandingkan satu sama lainnya.
2.     Question Answering as a Sequence of  Cognitive Tasks
Teori ini distimulasi oleh usaha untuk mengaplikasikan psikologi konginitif. Responden harus melakukan serangkaian tugas pengamatan untuk menjawab pertanyaan dari angket. Mereka harus memahami dan menginterpretasikan pertanyaan, menggali informasi dari ingatan, memadukan informasi dan kemudian baru merespon pertanyaan.
3.     Wawancara sebagai Percakapan (The Interview as Conversation)
Responden tidak harus mengartikan dan menjawab pertanyaan secara harfiah, akan tetapi mereka dapat menyimpulkan dan mengartikan pertanyaan tersebut sesuai dengan pemahaman dan kondisi mereka.  Pertanyan dibuat dalam bentuk naskah komunikasi yang memungkinkan adanya interaksi antara penanya dan responden.

2.   Wawancara

Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang dilakukan dengan tujuan untuk mendapat informasi yang diinginkan dari informan. Biasanya pertanyaan diarahkan pada pokok-pokok permasalahan atau isu-isu yang ingin di eksplorasi yang tidak dapat diperoleh dengan metode lain. Ada beberapa jenis wawancara yang dapat dilakukan yaitu:
  • Wawancara informal; pertanyaan-pertanyaan berkembang secara spontan dalam interaksi alamiah.
  • Wawancara dengan pedoman umum; pertanyaan-pertanyaan yang bersifat umum dan terbuka sudah disiapkan sebelum wawancara dilakukan.
  • Wawancara dengan pedoman terstandar yang terbuka; pertanyaan sudah ditulis secara rinci, lengkap dengan set pertanyaan dan penjabaran kalimatnya.
Hal terpenting yang harus diperhatikan dalam wawancara adalah:
  • Sumber informasi atau informan yang akan di wawancara.
  • Disain pertanyaan yang akan diajukan harus mengarah pada tujuan wawancara untuk mendapatkan informasi yang diinginkan.
  • Pencatatan informasi yang diperoleh selama wawancara untuk mendapatkan poin-poin yang diinginkan.

3.  Fokus Grup Diskusi (FGD)

FGD adalah salah satu teknik dalam mengumpulkan data kualitatif, dimana sekelompok orang berdiskusi dibawah arahan dari seorang moderator mengenai suatu topik. Kelompok diskusi harus cukup kecil (6-12 orang) sehingga memungkinkan setiap individu untuk berbicara. FGD bertujuan untuk mengumpulkan data mengenai persepsi peserta terhadap topik yang dibahas, akan tetapi tidak mencari konsensus dan tidak mengambil keputusan mengenai tindakan apa yang harus dilakukan. FGD akan memberikan data yang mendalam mengenai persepsi dan pandangan peserta. Oleh karena itu digunakan pertanyaan terbuka yang memungkinkan peserta untuk memberikan jawaban dan penjelasannya. Moderator hanya sebagai pengarah, pendengar, pengamat dan menganalisa data dengan menggunakan proses induktif (Kresno et al., 2000).

4.  Observasi

Observasi adalah kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut. Tujuan observasi adalah untuk mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung dan makna kejadian yang diamati tersebut. Deskripsi harus akurat, faktual sekaligus teliti tanpa harus dipenuhi berbagai catatan panjang lebar yang tidak relevan. Patton (1990) mengatakan data hasil observasi menjadi data penting karena (Poerwandari, 2005):
  • Peneliti akan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks yang diamati.
  • Memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada penemuan daripada pembuktian, dan mendekati masalah secara induktif.
  • Memungkinkan peneliti mengamati hal hal yang oleh partisipan sendiri kurang disadari.
  • Memungkinkan memperoleh data yang tidak diungkapkan oleh subyek yang diteliti.
  • Memungkinkan bergerak lebih jauh dari presepsi selektif yang ditampilkan subyek.
  • Memungkin peneliti merefleksikan dan bersikap introspektif terhadap penelitian yang dilakukannya.

 5.  Studi Kasus

Studi kasus dapat membuat peneliti memahami secara utuh dan terintegrasi mengenai interelasi berbagai fakta dan dimensi dari kasus yang dipelajari. Studi kasus dapat dibedakan dalam beberapa tipe (Poerwandari, 2005):
  • Studi kasus intrinsik: penelitian dilakukan karena ketertarikan atau kepedulian pada suatu kasus. Penelitian dilakukan untuk memahami secara utuh kasus tersebut, tanpa harus dimaksudkan untuk menghasilkan konsep-konsep / teori ataupun tanpa upaya mengeralisasi
  • Studi kasus instrumental: penelitian pada suatu kasus unik tertentu. Dilakukan untuk memahami isu dengan lebih baik, juga untuk mengembangkan dan memperhalus teori.
  • Studi kasus kolektif: suatu studi kasus instrumental yang diperluas sehingga mencakup beberapa kasus. Tujuannya adalah untuk mempelajari fenomena/populasi/kondisi umum dengan lebih mendalam. Karena menyangkut kasus majemuk dengan fokus baik di dalam tiap kasus maupun antar kasus, studi kasus ini juga sering disebut studi kasus majemuk atau studi kasus komparatif.
Dalam studi kasus, pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti wawancara, audit dokumen, observasi dan lain sebagainya.

6. Audit Dokumen dan Catatan

Dokumen dan catatan sudah lama digunakan dalam penelitian sebagai sumber informasi atau data. Dokumen dan catatan yang digunakan dalam penelitian tentunya adalah dokumen dan catatan resmi yang dapat dipertanggungjawabkan, seperti laporan kecelakaan, work permit, work instruction, laporan hasil rapat dan sebagainya. Alasan penggunaan dokumen dan catatan sebagai sumber data adalah sebagai berikut (Moleong, 2005):
  • Merupakan sumber yang stabil, kaya dan mendorong.
  • Berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian.
  • Mudah diperoleh.

7.  KJ Analysis (Affinity Diagram)

KJ analysis atau yang banyak dikenal dengan nama affinity diagram adalah suatu teknik dalam menggali dan mengorganisasi informasi verbal kedalam bentuk visual terstruktur. Metode ini dikembangkan oleh Jiro Kawakita pada tahun 1960, dan banyak digunakan sebagai tools untuk perbaikan atau peningkatan kinerja bisnis. Suatu KJ analysis dimulai dengan suatu ide yang spesifik yang dapat kemudian dikembangkan menjadi kategori yang lebih luas. KJ analysis dapat digunakan untuk:
1)   Menentukan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap suatu masalah atau kegagalan dan,
2)   Mengidentifikasi area-area yang dapat diperbaiki.
KJ analysis merupakan suatu tools yang sangat bagus digunakan untuk mengajak peserta diskusi untuk lebih kreatif dalam mencari solusi suatu permasalahan. Metode ini sangat baik digunakan dalam suatu kelompok yang memiliki latar belakang dan keahlian yang berbeda-beda, atau situasi yang cukup rumit dan membingungkan dimana situasi yang dihadapi belum tergali atau diketahui secara baik oleh peserta diskusi. Beberapa hal yang unik dari metode KJ analysis adalah:
  1. Affinity silently; adalah cara yang paling efektif dalam menyampaikan ide dalam sebuah kelompok yaitu dengan menampilkan ide secara tertulis tanpa bicara. Hal ini memiliki dua hal yang positip yaitu mendorong cara berfikir yang tidak konvensional dan yang kedua mengurangi pertengkaran atau pertentangan.
  2. Go for gut reaction; adalah mendorong anggota kelompok untuk bereaksi cepat terhadap apa yang dilihat atau dipikirkan. Dan semua anggota kelompok dapat menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya.
  3. Handle disagreement simply; adalah cara sederhana untuk menangani ketidak sepakatan dalam cara pandang terhadap suatu ide. Jika seseorang atau anggota kelompok tidak setuju terhadap suatu idea pada kategori tertentu, mereka tinggal memindahkan kedalam kategori yang lebih tepat hingga ditemukan konsensus, jika tidak ditemukan konsensus maka dapat dibuat duplikat idea untuk kedua kategori.
Metode ini dilakukan dengan cara brainstorming untuk mendapatkan ide-ide dari peserta diskusi sesuai dengan topik diskusi. Brainstorming dilakukan bukan dengan menyampaikan pendapat secara verbal akan tetapi disampaikan secara tertulis diatas sepotong kertas berupa kartu atau post-it note. Kemudian ide-ide atau pendapat tersebut ditempelkan pada papan tulis atau dinding dimana memungkinkan untuk mengelompokkan ide-ide yang sama kedalam satu kategori. Semua peserta kelompok diskusi diajak untuk membaca semua ide-ide yang tertempel dan mengelompokkan secara bersama-sama untuk mendapatkan konsensus serta memberi nama kategori-kategori tersebut. Melalui diskusi dengan peserta kemudian dicari hubungan sebab dan akibat dari semua kategori yang ada.
Metode-metode tersebut diatas dapat digunakan secara sendiri-sendiri atau gabungan beberapa metode, hal ini tentunya tergantung dari jenis dan kedalam informasi yang ingin diperoleh. Namun dalam banyak penelitian budaya dan perilaku keselamatan, metode yang paling sering digunakan adalah metode penyebaran angket. Beberapa penelitian menggabungkan penyebaran angket dengan fokus grup diskusi dan audit dokumen dan catatan untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif.

 

16" Analisis Kualitatif Kesalahan Manusia

Analisis Kualitatif Kesalahan Manusia

Analisis kualitatif kesalahan manusia adalah merupakan suatu aspek yang sangat penting untuk menilai dan menurunkan risiko dari keslahan manusia.  Ada beberapa teknik kualitatif dari human error analisis ini, yaitu:
  • Task analysis
  •  Performance-influencing factor (PIF) analysis
  • Predictive human error analysis
  • Consequence analysis
  • Error reduction analysis

 1.   Task Analisis

Task analisis atau bisa kita terjemahkan menjadi Analisis Tugas, dan istilah ini sudah sangat umum dan dikenal dalam keseharian didalam proses kerja. Dalam konteks K3, analisis tugas kerja bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang sistematis dan komprehensif dari struktur tugas yang dilakukan dan memperoleh wawasan mendalam bagaimana potensi kesalahan bisa terjadi dari tugas tersebut. Hasil yang diperoleh dari analisis tugas kemudian dikombinasikan dengan hasil analisis Performance Influencing Factor (PIF) sebagai bagian dari proses analisis kesalahan manusia.
Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk analisis tugas ini seperti  Hierarchical Task Analysis (HTA), Operator Action Event Trees (OAET), Decision/Action Flow Diagrams, Operational Sequence Diagrams (OSDs),dan  Signal-Flow Graph Analysis. Masing-masing teknik memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Inti dari kesemua teknik untuk task analisis tersebut adalah bagaimana kita mengurai setiap tahapan dari tugas-tugas yang dilakukan oleh pekerja dan menganalisis potensi yang dapat menimbulkan terjadinya human error dari setiap tahapan tugas yang diurai tersebut. Secara detil teknik-teknik tersebut akan dibahas didalam artikel-artikel lainnya (Insya Allah).

2.   Performance-influencing factor (PIF) analysis

Selama tahapan analisis kualitatif, analisis PIF dilakukan untuk mempertimbangkan faktor-faktor yang akan menentukan probabilitas kesalahan dari tugas yang dianalisis. Analisis PIF adalah merupakan bagian penting aspek penilaian risiko dari kesalahan manusia. Analisis PIF dapat diterapkan dalam dua area yaitu, pertama prediksi kualitatif dari kemungkinan kesalahan yang bisa memiliki dampak utama pada perusahaan dan keselamatan pekerja. Yang kedua adalah evaluasi kondisi operasional terhadap tugas-tugas yang dilakukan, dimana kondisi ini akan menentukan probabilitas bahwa suatu kesalahan tertentu dapat terjadi, dan karenanya perlu dinilai secara sistematis sebagai bagian dari proses kuantifikasi.
Konsep analisis PIF ini juga dapat digunakan pada saat melakukan disain proses. Hasil analisis PIF dapat digunakan untuk memaksimalkan petunjuk operasi pada proses produksi dan untuk meminimalkan potensi kesalahan yang mungkin terjadi. Analisis PIF juga dapat dilakukan dalam bentuk semikuantitatif dengan memberikan skala numerik seperti pada tabel dibawah.

Examples of PIF Scales
PlF EVALUATION SCALE(QUALITATIVE AND QUANTITATIVE)
PROCEDURES
PHYSICAL WORK ENVIRONMENT
WORST : 1
  • No written procedures, or standard way of performing tasks
  • Not integrated with training
 
  • High levels of noise
  • Poor lighting
  • High or very low temperatures and high humidity or wind chill factors
AVERAGE:  5
  • Written procedures available, but not always used
  • Standardized method for performing task
 
  • Moderate noise levels
  • Temperature and humidity range
BEST:  9
  • Detailed procedures and checklists available
  • Procedures developed using task analysis
  • Integrated with training
 
  • Noise levels at ideal levels
  • Lighting design based on analysis of task requirements
  • Temperature and humidity at ideal levels
Sumber: Guidelines for Preventing Human Error in Process Safety, CCPS 1994

3.   Predictive human error analysis (PHEA)

PHEA atau analisis prediktif kesalahan manusia adalah proses analisis terhadap kesalahan spesifik yang terkait dengan tugas atau langkah-langkah dari tugas yang diperkirakan dapat terjadi. Proses ini juga mempertimbangkan bagaimana kesalahan yang mungkin terjadi tersebut dapat dihindari sebelum memberikan dampak negative. Input dari proses ini dapat diperoleh dari Taks Analysis dan PIF Analyisis. Tahapan dari PHEA adalah sebagai berikut:
  1. Menenttukan tingkat kedalaman atau rincian analisis yang akan dilakukan.
  2. Melakukan analisis kesalahan perencanaan
  3. Melakukan analisis kesalahan operasi
    1. Kesalahan operasi
    2. Kesalahan pengecekan
    3. Kesalahan Komunikasi
    4. Kesalahan pemilihan
    5. Melakukan analisis perbaikkan

4.   Consequence analysis

Tujuan dari analisis konsekuensi adalah untuk mengevaluasi konsekuensi terhadap keselamatan atau kualitas dari setiap potensi kesalahan yang mungkin terjadi. Paling tidak terdapat tiga tipe konsekuensi yang dapat terjadi jika terjadi kesalahan manusia, yaitu:
  1. Tujuan keseluruhan dari tugas yang dilakukan tidak tercapai.
  2. Akibat tujuan tidak tercapai maka akan muncul konsekuensi negative lainnya.
  3. Meskipun tujuan dari tugas tercapai, namun akibat kesalahan akan terjadi konsekuensi negative lainnya baik langsung atau laten, yang mungkin terkait dengan beberapa sistem lain yang tidak terkait dengan tugas utama.
Umumnya analisis risiko difokuskan pada kesalahan jenis pertama karena kepentingan untuk tindakan yang diperlukan pada saat tanggap darurat.  Namun analisis konsekuensi harus bersifat komprehensif dengan mempertimbangkan jenis lain karena dapat menjadi sumber risiko pada pekerja dan perusahaan.

5.   Error reduction analysis

Setelah menentukan jenis kesalahan dan konsekuensi yang paling signifikan dimana perbaikan tidak mungkin dilakukan, maka dari analisis kualitatif tersebut diatas dikembangkan strategi pengurangan kesalahan yang memungkinkan mengurangi kesalahan sampai pada tingkat yang dapat diterima. Strategi ini dapat secara langsung dikembangkan dari hasil analisis PIF, karena hasil analis PIF menunjukkan kekurangan dari situasi yang perlu diperbaiki untuk mengurangi potensi kesalahan.