Selasa, 22 November 2016

24" LANGKAH-LANGKAH PENERAPAN SMK3/OHSAS18001

LANGKAH-LANGKAH PENERAPAN SMK3/OHSAS18001

Dalam menerapkan Sistem Manajemen K3 (SMK3) ada beberapa tahapan yang harus dilakukan agar SMK3 tersebut menjadi efketif, karena SMK3 mempunyai elemen-elemen atau persyaratan-persyaratan tertentu yang harus dibangun didalam suatu organisasi atau perusahaan. Sistem Manajemen K3 juga harus ditinjau ulang dan ditingkatkan secara terus menerus didalam pelaksanaanya untuk menjamin bahwa system itu dapat berperan dan berfungsi dengan baik serat berkontribusi terhadap kemajuan perusahaan. Untuk lebih memudahkan penerapan standar Sistem Manajemen K3, berikut ini dijelaskan mengenai tahapan-tahapan dan langkah-langkahnya. Tahapan dan langkah-langkah tersebut menjadi dua bagian besar.
a.   Tahap Persiapan.
Merupakan tahapan atau langkah awal yang harus dilakukan suatu organisasi/perusahaan. Langkah ini melibatkan lapisan manajemen dan sejumlah personel, mulai dari menyatakan komitmen sampai dengan kebutuahn sumber daya yang diperlukan, adapun tahap persiapan ini, antara lain:
  • Komitmen manajemen puncak.
  • Menentukan ruang lingkup
  • Menetapkan cara penerapan
  • Membentuk kelompok penerapan
  • Menetapkan sumber daya yang diperlukan
b.   Tahap pengembangan dan penerapan.
Dalam tahapan ini berisi langkah-langkah yang harus dilakukan oleh organisasi/perusahaan dengan melibatkan banyak personel, mulai dari menyelenggarakan penyuluhan dan melaksakan sendiri kegiatan audit internal serta tindakan perbaikannya sampai melakukan sertifikasi.
Langkah 1. Menyatakan Komitmen
Pernyataan komintmen dan penetapan kebijakan untuk menerapan sebuah Sistem Manajemen K3 dalam organisasi/perusahaan harus dilakukan oleh manajemen puncak. Persiapan Sistem Manajemen K3 tidak akan berjalan tanpa adanya komintmen terhadap system manajemen tersebut. Manajemen harus benar-benar menyadari bahwa merekalah yang paling bertanggung jawab terhadap keberhasilan atau kegagalan penerapan Sistem K3. Komitmen manajemen puncak harus dinyatakan bukan hanya dalam kata-kata tetapi juga harus dengan tindakan nyata agar dapat diketahui, dipelajari, dihayati dan dilaksanakan oleh seluruh staf dan karyawan perusahaan. Seluruh karyawan dan staf harus mengetahui bahwa tanggung jawab dalam penerapan Sistem Manajemen K3 bukan urusan bagian K3 saja. Tetapi mulai dari manajemen puncak sampai karyawan terendah. Karena itu ada baiknya manajemen membuat cara untuk mengkomunikasikan komitmennya ke seluruh jajaran dalam perusahaannya. Untuk itu perlu dicari waktu yang tepat guna menyampaikan komitmen manajemen terhadap penerapan Sistem Manajemen K3.
Langkah 2. Menetapkan Cara Penerapan
Dalam menerapkan SMK3, perusahaan dapat menggunakan jasa konsultan dengan pertimbangan sebagai berikut:
  • Konsultan yang baik tentu memiliki pengalaman yang banyak dan bervariasi sehingga dapat menjadi agen pengalihan pengentahuan secara efektif, sehingga dapat memberikan rekomendasi yang tepat dalam proses penerapan Sistem Manajemen K3.
  • Konsultan yang independen kemungkinan konsultan tersebut secara bebas dapat memberikan umpan  balik kepada manajemen secara objektif tanpa terpengaruh oleh persaingan antar kelompok didalam organisasi/perusahaan.
  • Konsultan jelas memiliki waktu yang cukup. Berbeda dengan tenaga perusahaan yang meskipun mempunyai keahlian dalam Sistem Manajemen K3 namun karena desakan tugas-tugas yang lain di perusahaan, akibatnya tidak punya cukup waktu.
Sebenarnya perusahaan/organisasi dapat menerapkan Sistem Manajemen K3 tanpa menggunakan jasa konsultan, jika organisasi yang bersangkutan memiliki personel yang cukup mampu untuk mengorganisasikan dan mengarahkan orang. Selain itu organisasi tentunya sudah memahami dan berpengalaman dalam menerapkan standar Sistem Manajemen K3 ini dan mempunyai waktu yang cukup.
Beberapa hal yang perlu di perhatikan untuk menggunakan jasa konsultan:
  • Pastikan bahwa konsultan yang dipilih adalah konsultan yang betul-betul berkompeten di bidang standar Sistem manajemen K3, bukan konsultan dokumen manajemen K3 biasa yang lebih memusatkan dirinya pada pembuatan  dokumen saja.
  • Teliti mengenai reputasi dari konsultan tersebut. Apakah mereka selalu menepati janji yang mereka berikan, mampu bekerja sama, dan yang tidak kalah penting adalah motivasi tim perusahaan. Kita dapat meminta informasi secara identitas klien mereka.
  • Pastikan lebih dulu siapa yang akan diterjunkan sebagai konsultan dalam proyek ini. Hal ini penting sekali karena merekalah yang akan berkunjung keperusahaan dan akan menentukan keberhasilan, jadi bukan nama besar dari perusahaan konsultan tersebut. Mintalah waktu untuk bertemu dengan calon konsultan yang mereka ajukan dan perusahaan boleh bebas menilainya. Pertimbangan apakah tim perusahaan mau menerima dan dapat bekerjasama dengannya.
  • Teliti apakah konsultan tersebut telah berpengalaman membantu perusahaan sejenisnya sampai mendapat sertifikat. Meskipun hal ini bukan menjadi patokan mutlak akan tetapi pengalaman menangani usaha sejenis akan lebih baik dan mempermudah konsultan dalam memahami proses organisasi perusahaan tersebut.
  • Pastikan waktu dari konsultan terkait dengan kesibukannya menagani klien yang lain. Biasanya konsultan tidak akan berkunjung setiap hari melainkan 3-4 hari selama sebulan. Makan pastikan jumlah hari berkunjung konsultan tersebut sebelum memulai kontrak kerja sama.
Langkah 3. Membentuk Kelompok Kerja Penerapan.
Jika perusahaan akan membentuk kelompok kerja sebaiknya anggota kelompok kerja tersebut terdiri atas seorang wakil dari setiap unit kerja. Biasanya manajer unit kerja, hal ini penting karena merekalah yang tentunya paling bertanggung jawab terhadap unit kerja yang bersangkutan.
Peran anggota kelompok
Dalam proses penerapan ini maka perenan anggota kelompok kerja adalah:
  • Menjadi agen perubahan sekaligus fasilisator dalam unit kerjanya. Merekalah yang pertama-tama menerapkan Sistem Manajemen K3 ini di unit-unit kerjanya termasuk merobah cara dan kebiasaan lama yang tidak menunjang penerapan sistem ini. Selain itu mereka juga akan melatih dan menjelaskan tentang standar ini termasuk mnafaat dan konsekuensinya.
  • Menjaga konsistensi dari penerapan Sistem Manajemen K3, baik melalui tinjauan sehari-hari maupun berkala.
  • Menjadi penghubung antara manajemen dan unti kerjanya.
Tanggung jawab dan tugas anggota kelompok kerja
Tanggung jawab dan tugas-tugas  yang harus dilakukan oleh anggota kelompok kerja adalah :
  • Mengikuti pelatihan lengkap dengan standar Sistem Manajemen K3.
  • Melatih staf dalam unit kerjanya sesuai kebutuhan.
  • Melakukan latihan terhadap sistem yang berlangsung dibandingkan dengan sistem standar Sistem Manajemen K3.
  • Melakukan tinjauan terhadap sistem yang berlangsung dibandingkan dengan sistem standar Sistem Manajemen K3.
  • Membuat bagan alir yang menjelaskan tentang keterlibatan unit kerjanya dengan elemen yang ada  dalama standar Sistem Manajemen K3.
  • Bertanggung jawab untuk mengembangkan system sesuai dengan elemen yang terkait dalam unit kerjanya. Sebagai contoh, anggota kelompok kerja wakil dari divisi suber daya manusia bertanggung jawab untuk pelatihan dan seterusnya.
  • Melakukan apa yang telah ditulis dalam dokumen baik diunit kerjanya sendiri maupun perusahaan.
  • Ikut serta sebagai anggota tim audit internal.
  • Bertanggung jawab untuk mempromosikan standar Sistem Manajemen K3 secara menerus baik di unit kerjanya sendiri maupun di unit kerja lain secara konsisten serta bersama-sama memelihara penerapan sistemnya.
Kualifikasi anggota kelompok kerja
Dalam menunjukan anggota kelompok kerja sebenarnya tidak ada ketentuan kualifikasi yang baku. Namun demikian untuk memudahkan dalam pemilihan anggota kelompok kerja, manajemen mempertimbangkan personel yang :
  • Memiliki taraf kecerdasan yang cukup sehingga mampu berfikir secara konseptual dan berimajinasi.
  • Rajin dan bekerja keras.
  • Senang belajar termaksud suka membaca buku-buku tentang standar Sistem Manajemen K3.
  • Mampu membuat bagan alir dan menulis.
  • Disiplin dan tepat waktu.
  • Berpengalaman kerja cukup didalam unit kerjanya sehingga menguasai dari segi operasional.
  • Mampu berkomunikasi dengan efektif dalam presentasi  dan pelatihan.
  • Mempunyai waktu cukup dalam membantu melaksakan proyek penerapan standar Sistem Manajemen K3 di luar tugas-tugas utamanya.
Jumlah anggota kelompok kerja
Mengenai jumlah anggota kelompok kerja dapat bervariasi tergantung dari besar kecilnya lingkup penerapan – biasanya  jumlah penerapan anggota kelompok kerja sekitar delapan orang. Yang pasti jumlah anggota kelompok kerja ini harus dapat mencakup semua elemen sebagaimana disyaratkan dalam Sistem Manajemen K3. Pada dasarnya setiap anggota kelompok kerja dapat merangkap dalam working group, dan  working group itu sendiri dapat saja hanya sendiri dari satu atau dua orang. Kelompok kerja akan diketuai dan dikoordinir oleh seorang ketua kelompok kerja, biasanya dirangkap oleh manajemen representatif yang ditunjuk oleh manajemen puncak.
Disamping itu untuk mengawal dan mengarahkan kelompok kerja maka sebaiknya dibentuk panitia pengarah (Steering Committee), yang biasanya terdari dari para anggota manajemen, adapun tugas panitia ini adalah memberikan arahan, menetapkan kebijakan, sasaran dan lain-lain yang menyangkut kepentingan organisasi secara keseluruhan. Dalam proses penerapan ini maka kelompok kerja penerapan akan bertanggung jawab dan melaporkan Panitia Pengarah.
Kelompok kerja penunjang
Jika diperlukan, perusahaan yang berskala besar ada yang membentuk kelompok kerja penunjang dengan tugas membantu kelancaran kerja kelompok kerja penerapan, khususnya untuk pekerjaan yang bersifat teknis administrative. Misalnya mengumpulkan catatan-catatan K3 dan fungsi administrative yang lain seperti pengetikan, penggandaan dan lain-lain.
Langkah 4. Menetapkan Sumber Daya Yang Diperlukan
Sumber daya disini mencakup orang/personel, perlengkapan, waktu dan dana. Orang yang dimaksud adalah beberapa orang yang diangkat secara resmi diluar tugas-tugas pokoknya dan terlibat penuh dalam proses penerapan. Perlengkapan adalah perlunya mempersiapkan kemungkinan ruangan tambahan untuk menyimpan dokumen atau komputer tambahan untuk mengolah dan menyimpan data. Tidak kalah pentingnya adalah waktu. Waktu yang diperlukan tidaklah sedikit terutama bagi orang yang terlibat dalam penerapan, mulai mengikuti rapat, pelatihan, mempelajari bahan-bahan pustaka, menulis dokumen mutu sampai menghadapi kegiatan audit assessment. Penerapan Sistem Manajemen K3 bukan sekedar kegiatan yang dapat berlangsung dalam satu atau dua bulan saja. Untuk itu selama kurang lebih satu tahun perusahaan harus siap menghadapi gangguan arus kas karena waktu yang seharusnya dikonsentrasikan untuk memproduksikan atau beroperasi banyak terserap ke proses penerapan ini. Keadaan seperti ini sebetulnya dapat dihindari dengan perencanaan dan pengelolaan yang baik. Sementara dana yang di perlukan adalah dengan membayar konsultan (bila menggunakan konsultan), lembaga sertifikasi, dan biaya untuk pelatihan karyawan diluar perusahaan.
Disamping itu juga perlu dilihat apakah dalam penerapan Sistem Manajemen K3 ini perusahaan harus menyediakan peralatan khusus yang selama ini belum dimiliki. Sebagai contoh adalah: apabila perusahaan memiliki kompresor dengan kebisingan diatas rata-rata, karena sesuai dengan persyaratan Sistem Manajemen K3 yang mengharuskan adanya pengendalian resiko dan bahaya yang ditimbulkan, perusahaan tentu harus menyediakan peralatan yang dapat menghilangkan/mengurangi tingkat kebisingan tersebut. Alat pengukur tingkat kebisingan juga harus disediakan, dan alat ini harus dikalibrasi. Oleh karena itu besarnya dana yang dikeluarkan untuk peralatan ini tergantung pada masing-masing perusahaan.
Langkah 5. Kegiatan penyuluhan
Penerapan Sistem Manajemen K3 adalah kegiatan dari dan untuk kebutuhan personel perusahaan. Oleh karena itu harus dibangun rasa adanya keikutsertaan dari seluruh karyawan dalam perusahan memlalui program penyuluhan.
Kegiatan ini harus diarahkan untuk mencapai tujuan, antara lain :
  • Menyamakan persepsi dan motivasi terhadap pentingnya penerapan Sistem Manajemen K3 bagi kinerja perusahaan.
  • Membangun komitmen menyeluruh mulai dari direksi, manajer, staf dan seluruh jajaran dalam perusahaan untuk bekerja sama dalam menerapkan standar system ini.
Kegiatan penyuluhan ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya dengan pernyataan komitmen manajemen, melalui ceramah, surat edaran atau pembagian buku-buku yang terkait dengan Sistem Manajemen K3.
Pernyataan komitmen manajemen
Dalam kegiatan ini, manajemen mengumpulkan seluruh karyawan dalam acara khusus. Kemudian manajemen menyampaikan sambutan yang isinya, antara lain :
  • Pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja bagi kelangsungan dan kemajuan perusahaan.
  • Bahwa Sistem Manajemen K3 sudah banyak diterapkan di berbagai Negara dan sudah menjadi kewajiban perusahaan-perusahaan di Indonesia.
  • Bahwa manajemen telah memutuskan serta mengharapkan keikutsertaan dan komitmen setiap orang dalam perusahaan sesuai tugas dan jabatan masing-masing.
  • Bahwa manajemen akan segera membentuk tim kerja yang dipilih dari setiap bidang didalam perusahaan.
Perlu juga dijelaskan oleh manajemen puncak tentang batas waktu kapan sertifikasi system manajemen k3 harus diraih, misalnya pada waktu ulang tahun perusahaan yang akan datang. Tentu saja pernyataan seperti ini harus memperhitungkan kensekuensi bahwa sertifikasi diharapkan dapat diperoleh dalam batas waktu tersebut. Hal ini penting karena menyangkut kredibilitas manajemen dan waktu kelompok kerja.
Pelatihan awareness system manajemen K3
Pelatihan singkat mengenai apa itu Sitem Manajemen K3 perlu dilakukan guna memberikan dan menyamakan persepsi dan menghindarkan kesimpang siuran informasi yang dapat memberikan kesan keliru dan menyesatkan. Peserta pelatihan adalah seluruh karyawan yang dikumpulkan di suatu tempat dan kemudian pembicara diundang untuk menjelaskan Sistem Manajemen K3 secara ringkas dan dalam bahasa yang sederhana, sehingga mampu mengunggah semangat karyawan untuk menerapkan standar Sistem Manajemen K3. Kegiatan awareness ini bila mungkin dapat dilakukan secara bersamaan untuk seluruh karyawan dan disampaikan secara singkat dan tidak terlalu lama.
Dalam awareness ini dapat disampaikan materi tentang :
  • Latar belakang dan jenis Sistem Manajemen K3 yang sesuai dengan organisasi.
  • Alasan mengapa standar Sistem Manajemen K3 ini penting bagi perusahaan dan manfaatnya.
  • Perihal elemen, dokumentasi dan sertifikasi secara singkat.
  • Bagaimana penerapannya dan peran setiap orang dalam penerapan tersebut.
  • Diadakan tanya jawab.
Membagikan bahan bacaan
Jika pelatihan awareness hanya dilakukan sekali saja, namun bahan bacaan berupa buku atau selebaran dapat dibaca karyawan secara berulang-ulang. Untuk itu perlu dicari buku-buku yang baik dalam arti ringkas sebagai tambahan dan bersifat memberikan pemahaman yang terarah, sehingga setiap karyawan senang untuk membacanya. Apabila memungkinkan buatlah selebaran atau bulletin yang bisa diedarkan berkala selama masa penerapan berlangsung. Lebih baik lagi jika selebaran tersebut ditujukan kepada perorangan dengan menulis nama mereka satu persatu, agar setiap orang merasa dirinya dianggap berperan dalam kegiatan ini. Dengan semakin banyak informasi yang diberikan kepada karyawan tentunya itu lebih baik – biasanya masalah akan muncul karena kurangnya informasi. Informasi ini penting sekali karena pada saat melakukan assessment, auditor tidak hanya bertanya pada manajemen saja, tetapi juga kepada semua orang. Untuk sebaiknya setiap orang benar-benar paham dan tahu hubungan standar Sistem Manajemen K3 ini dengan pekerjaan sehari-hari.
Langkah 6. Peninjauan sistem
Kelompok kerja penerapan yang telah dibentuk kemudian mulai bekerja untuk meninjau system yang sedang berlangsung dan kemudian dibandingkan dengan persyaratan yang ada dalam Sistem Manajemen K3. Peninjauan ini dapat dilakukan melalui dua cara yaitu dengan meninjau dokumen prosedur dan meninjau pelaksanaan .
  • Apakah perusahaan sudah mengikuti dan melaksanakan secara konsisten prosedur atau instruksi kerja dari OHAS 18001 atau Permenaker 05/men/1996.
  • Perusahaan belum memiliki dokumen, tetapi sudah menerapkan sebagian atau seluruh persyaratan dalam standar Sistem Manajemen K3.
  • Perusahaan belum memiliki dokumen dan belum menerapkan persyaratan standar Sistem Manajemen K3 yang dipilih.
Langkah 7. Penyusunan jadwal kegiatan
Setelah melakukan peninjauan system maka kelompok kerja dapat menyusun suatu jadwal kegiatan. Jadwal kegiatan dapat disusun dengan mempertimbangkan hal-hal berikut :
Ruang lingkup pekerjaan
Dari hasil tinjauan sistem akan menunjukan beberapa banyak yang harus disiapkan dan berapa lama setiap prosedur itu akan diperiksa, disempurnakan, disetujui dan diaudit. Semakin panjang daftar prosedur yang harus disiapkan, semakin lama waktu penerapan yang diperlukan.
Kemampuan wakil manajemen dan kelompok kerja penerapan
Kemampuan disini dalam hal membagi dan menyediakan waktu. Seperti diketahui bahwa tugas penerapan bukanlah satu-satunya pekerjaan para anggota kelompok kerja dan manajemen representative. Mereka masih mempunyai tugas dan tanggung jawab lain diluar penerapan standar Sistem Manajemen K3 yang kadang-kadang juga sama pentingya dengan penerapan standar ini. Hal ini menyangkut kelangsungan usaha perusahaan seperti pencapaian sasaran penjualan, memenuhi jadwal dan taget produksi.
Keberadaan proyek
Khusus bagi perusahaan yang kegiatanya berdasarkan proyek (misalnya kontraktor dan pengembangan), maka ketika menyusun jadwal kedatangan asesor badan sertifikasi, pastikan bahwa pada saat asesor datang proyek yang sedang dikerjakan.
Langkah 8. Pengembangan Sistem Manajemen K3
Beberapa kegiatan yang perlu dilakukan dalam tahap pengembangan Sistem Manajemen K3 antara lain mencakup dokumentasi, pembagian kelompok, penyusunan bagan air, penulisan manual Sistem Manajemen K3, Prosedur, dan instruksi kerja.
Langkah 9. Penerapan Sistem
Setelah semua dokumen selesai dibuat, maka setiap anggota kelompok kerja kembali ke masing-masing  bagian untuk menerapkan system yang ditulis. Adapun cara penerapannya adalah:
  • Anggota kelompok kerja mengumpulkan seluruh stafnya dan menjelaskan mengenai isi dokumen tersebut. Kesempatan ini dapat juga digunakan untuk mendapatkan masukan-masukan dari lapangan yang bersifat teknis operasional.
  • Anggota kelompok kerja bersama-sama staf unit kerjanya mulai mencoba menerapkan hal-hal yang telah ditulis. Setiap kekurangan atau hambatan yang dijumpai harus dicatat sebagai masukan untuk menyempurnakan system.
  • Mengumpulkan semua catatan K3 dan rekaman tercatat yang merupakan bukti pelaksanaan hal-hal yang telah ditulis. Rentang waktu untuk menerapkan system ini sebaiknya tidak kurang dari tiga bulan sehingga cukup memadai untuk menilai efektif tidaknya system yang telah dikembangkan tadi. Tiga bulan ini sudah termasuk waktu yang digunakan untuk menyempurnakan system dan memodifikasi dokumen.
Dalam praktek pelaksanaannya, maka kelompok kerja tidak harus menunggu seluruh dokumen selesai. Begitu satu dokumen selesai sudah mencakup salah satu elemen standar maka penerapan sudah dapat dimulai dikerjakan. Sementara proses penerapan system berlangsung, kelompok kerja dapat tetap melakukan pertemuan berkala untuk memantau kelancaran proses penerapan system ini. Apabila langkah-langkah yang terdahulu telah dapat dijalankan dengan baik maka proses system ini relative lebih mudah dilaksanakan. Penerapan system ini harus dilaksanakan sedikitnya tiga bulan sebelum pelaksanaan audit internal. Waktu tiga bulan ini diperlukan untuk mengumpulkan bukti-bukti ( dalam bentuk rekaman tercatat) secara memadai dan untuk melaksanakan penyempurnaan system serta modifikasi dokumen.
Langkah 10. Proses sertifikasi
Ada sejumlah lembaga sertifikasi Sistem Manajemen K3. Misalnya Sucofindo melakukan sertifikasi terhadap Permenaker 05 /Men/1996. Namun Untuk OHSAS 18001:1999 organisasi bebas menentukan lembaga sertifikasi manapun yang diinginkan. Untuk itu organisasis disarankan untuk memilih lembaga sertifikasi OHSAS 108001 yang paling tepat.

 

23" Sekilas Tentang Teori Human Error

Sekilas Tentang Teori Human Error

Perkembangan teori kesalahan manusia (human error) berkembang sangat pesat. Ada dua aspek yang berkembang dalam teori kesalahan manusia ini, yaitu pendekatan dalam mencari faktor-faktor yang dapat menyebabkan kecenderungan manusia berbuat salah dan pendekatan dalam mencari aspek yang memperkecil terjadinya kesalahan manusia. Pendekatan pertama adalah pendekatan analisis kesalahan (Error Analysis Approach), dimana analisa bermula dari suatu kejadian kecelakaan, kemudian dilakukan analisa mundur untuk mencari faktor-faktor penyebab kecelakaan tersebut. Pendekatan dalam memperkecil kesalahan manusia disebut pendekatan analisis kepatuhan (compliance analysis approach), dimana analisa bermula dari analisa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan manusia pada peraturan keselamatan dan bagaimana cara untuk meningkatkan kepatuhan tersebut.
The Human Factors Analysis and Classification System (HFACS) menjelaskan kegagalan manusia dalam dua kategori (lihat gambar), yaitu: kesalahan (error) dan pelanggaran (violation). Kesalahan biasanya terjadi karena ketidakmampuan atau ketidaksengajaan karena kelalaian atau kealpaan seseorang yang berakibat pada kegagalan. Sedangkan pelanggaran adalah adanya faktor kesengajaan untuk mengabaikan peraturan sehingga terjadi kegagalan atau kecelakaan.
Kesalahan manusia pada suatu sistem dapat dipengaruhi dan distimulasi oleh training yang kurang efektif,  rancangan sistem prosedur yang buruk atau konsep yang kurang matang baik pada tampilan checklist atau buku manual.  Selanjutnya, istilah “pilot error” yang merupakan faktor dasar yang tersembunyi harus diutamakan bila bertujuan untuk pencegahan terjadinya kecelakaan. Human error banyak terdapat pada manusia dan itu melimpah, bukan sebagai variasi akan tetapi akibat potensinya yang dapat muncul sewaktu-waktu. Error tersebut dalam bentuk tindakan, bicara, persepsi, pemanggilan memori, rekognisi, pengadilan, pemecahan masalah, membuat keputusan, konsep formasi dan sebagainya.
Menurut HFACS terdapat dua tipe kesalahan yaitu variable error dan konstan error,  dimana variable error menunujukkan potensi kesalahan dalam diri manusia yang sifatnya bervariasi, dan konstan error adalah kesalahan yang terdapat dalam diri seseorang secara konstan dan bentuknya sama dalam dimensi tempat, lingkungan dan organisasi. Akurasi dari prediksi kesalahan amat tergantung pada sejauh mana faktor yang menyebabkan kesalahan dapat dipahami. Secara teori elemen yang menghasilkan kesalahan adalah sifat alamiah pekerjaan dan lingkungan sekitarnya, mekanisme pengaturan performansi dan sifat alamiah dari individu. Konsekuensinya adalah prediksi yang sifatnya akan menjadi probabilistik daripada ketepatan.                                                                      Kategori kesalahan manusia menurut HFACS.
 Salah satu teori kesalahan manusia yang cukup terkenal adalah teori Ramsey. Ramsey mengajukan sebuah model yang menelaah faktor-faktor pribadi yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan. Menurut Ramsey perilaku kerja yang aman atau terjadinya perilaku yang dapat menyebabkan kecelakaan, dipengaruhi oleh 4 (empat)  faktor yaitu :
  • persepsi (perception)
  • kognitif (cognition)
  • pengambilan keputusan (decision making)
  • kemampuan  (ability)
Keempat faktor tersebut merupakan suatu proses yang berurutan, mulai dari yang pertama hingga yang terakhir. Bila ke empat tahapan ini dapat berlangsung dengan baik maka akan dapat terbentuk suatu perilaku yang aman.
Reason J. (1990) menjelaskan beberapa metode investigasi kesalahan manusia, yaitu:
  1. Metode naturalistic atau corpus gathering; yaitu metode investigasi  human error dilihat dari sifat alamiah manusia.
  2. Studi angket (questionare); yaitu menyelidiki dengan menggunakan beberapa bentuk angket yang bertujuan mengetahui respon dari individu terhadap hal yang ditanyakan.
  3. Studi laboratorium; yaitu menyelidiki melalui eksperimen terhadap individu yang hasilnya dapat terukur dan terkontrol
  4. Studi simulator; yaitu investigasi human error dengan menggunakan simulator berbasis komputer dengan menggunakan program software.
  5. Studi kasus; yaitu investigasi dengan menyelidiki berbagai kasus, menggalinya, dan mengkombinasikannya dengan berbagai teori kesalahan, sehingga dapat membuat disain dan diharapkan dapat mengurangi kesalahan (error).

sumber http://healthsafetyprotection.com/sekilas-tentang-teori-human-error/

 

22" Heat Stress

Heat Stress

Yang dimaksud dengan heat stress disini adalah reaksi fisik dan fisiologis pekerja terhadap suhu yang berada diluar kenyamanan bekerja. Paparan panas terhadap tubuh dapat berasal dari lingkungan kerja (panas eksternal), panas yang berasal dari aktivitas kerja (panas internal) dan panas karena memakai pakain yang terlalu tebal. Heat stress terjadi apabila tubuh sudah tidak mampu menseimbangkan suhu tubuh normal karena besarnya beban panas dari luar. Jika tubuh terpapar panas, maka sistem yang ada didalam tubuh akan menpertahankan suhu tubuh internal agar tetap pada suhu normal (36-38 C) dengan cara mengalirkan darah lebih banyak kekulit dan mengeluarkan cairan atau keringat. Pada saat demikian jantung bekerja keras memompa darah ke kulit untuk mendinginkan tubuh, sehingga darah lebih banyak bersirkulasi di daerah kulit luar. Ketika suhu lingkungan mendekati suhu tubuh normal, maka pendinginan makin sulit dilakukan oleh sistem tubuh. Jika suhu luar sudah berada diatas suhu tubuh maka sirkulasi darah dan keringat yang keluar tidak mampu menurunkan suhu tubuh kesuhu normal.  Dalam kondisi seperti ini, jantung terus memompa darah kepermukaan tubuh, kelenjar keringat terus mengeluarkan cairan yang mengandung elektrolit ke permukaan kulit dan penguapan keringat menjadi cara yang efektif untuk mempertahankan suhu tubuh agar tetap konstan. Namun jika kelembaban udara cukup tinggi, maka keringat tidak dapat menguap dan suhu tubuh tidak dapat dipertahankan, dalam kondisi ini tubuh mulai terganggu. Kondisi ini mempengaruhi kemampuan individu untuk bekerja dilingkungan panas. Dengan banyaknya darah mengalir kekulit luar, maka pasokan darah ke otak, otot-otot aktif dan organ internal lainnya menjadi berkurang sehingga kelelahan dan penurunan kekuatan tubuh mulai lebih cepat terjadi. Konsentrasi bekerja juga mulai terganggu.
Bekerja di area panas dapat meningkatkan potensi terjadinya kecelakaan, misalnya karena telapak tangan licin akibat berkeringat, pusing, fogging dari kaca mata safety dan luka bakar jika tersentuh benda panas. Selain dari bahaya ini jelas, frekuensi kecelakaan, secara umum tampaknya lebih tinggi di lingkungan yang panas daripada di kondisi lingkungan yang lebih moderat. Salah satu alasannya adalah bahwa bekerja di lingkungan yang panas menurunkan kewaspadaan mental dan kinerja fisik individu. Peningkatan suhu tubuh dan ketidaknyamanan fisik dapat meningkatkan emosi, kemarahan, dan kondisi emosional lainnya yang kadang-kadang menyebabkan pekerja mengabaikan prosedur keselamatan atau kurang hati-hati terhadap bahaya ditempat kerja.
Paparan berlebihan terhadap lingkungan kerja yang panas dapat mengakibatkan berbagai gangguan terhadap tubuh. Berikut adalah gangguan yang dapat terjadi akibat panas:
Heat Stroke
Heat stroke adalah akibat yang paling serius dari bekerja di lingkungan panas. Hal ini terjadi karena sistem pengatur suhu tubuh tidak mampu mempertahankan suhu tubuh dengan mengeluarkan keringat (keringat terhenti). Suhu tubuh naik secara dramatis, dan korban mengalami gannguan mental serta kejang-kejang. Jika hal ini terjadi, korban harus segera dikeluarkan dari area panas dan ditempatkan diarea dingin, tubuhnya harus dibasahi dengan kain basah untuk menurunkan suhu tubuhnya sebagai pertolongan pertama. Selanjutnya korban harus dibawa kerumah sakit untuk mendapat pertolongan lebih lanjut. Jangan sampai terlambat karena bisa berakibat kematian.
Heat Exhaustion
Heat exhaustion atau kelelahan panas dapat mengalami beberapa gangguan klinis yang dapat menyerupai gejala awal heat stroke. Kelelahan panas diakibatkan oleh hilangnya sejumlah besar cairan tubuh melalui keringat, kadang-kadang disertai kehilangan cairan elektrolit yang berlebihan. Pekerja yang mengalami kelelahan panas masih berkeringat tetapi mengalami kelelahan, pusing, mual atau sakit kepala. Dalam kasus yang lebih serius, korban bisa muntah atau hilang kesadaran, kulit basah atau lembab, pucat atau memerah dan suhu tubuh normal atau sedikit diatas normal. Pada kondisi ini korban harus segera dipindahkan ketempat yang dingin untuk mendapatkan perawatan dan istrihat yang cukup.
Heat Cramps
Heat cramps atau kram panas adalah terjadinya kram atau kejang pada otot-otot akibat kehilangan cairan elektrolit, meskipun sudah minum air secukupnya namun tidak bisa menggantikan garam didalam tubuh, bahkan air yang diminum mengencerkan cairan elektrolit yang ada didalam tubuh dan semakin mempermudah cairan elektrolit tersebut keluar dari tubuh sehingga kadar cairan elektrolit makin rendah, dan hal ini menyebabkan otot mengalami kram yang menyakitkan. Biasanya kram dapat terjadi pada otot kaki, lengan, atau perut. Biasanya otot-otot yang lelah akan lebih mudah kram. Kram dapat terjadi selama satu atau setengah jam, dan dapat dipulihkan dengan meminum cairan yang mengandung elektrolit atau garam.
Fainting
Fainting atau pingsan  bisa terjadi bagi pekerja yang tidak terbiasa bekerja dilingkungan panas. Pada saat bekerja terjadi pembesaran pembuluh darah dibawah kulit dan bagian bawah tubuh untuk mempertahankan suhu tubuh, sehingga darah terkumpul disana dan otak mengalami kekurangan suplai darah. Setelah pekerja yang pingsan dipindahkan ke ruangan yang lebih dingan dan dibaringkan untuk membiarkan darah mengalir ke otak agar korban sadar kembali.
Heat Rash
Heat rash atau biang keringat dapat terjadi pada lingkungan panas yang lembab, dimana keringat tidak bisa menguap dan menempel dikulit atau kulit tetap basah, sehingga memuncukan biang keringat. Untuk menghindari biang keringat pekerja bisa beristirahat diruangan yang dingin dan mandi bersih serta mengeringkan kulit. Jika biang keringatnya parah, maka sebaiknya berobat ke dokter kulit.
Transient Heat Fatigue
Transient heat fatigue adalah kelelahan panas sementara yang terjadi karena ketidaknyamanan akibat paparan panas yang dapat menyebabkan ketegangan mental atau psikologis. Biasanya terjadi pada pekerja yang rentan terhadap panas, dan dapat mengganggu kinerja, koordinasi dan kewaspadaan. Tingkat ketahanan terhadap panas dari pekerja yang suka mengalami transient heat fatigue dapat dinaikkan secara bertahap dengan menyesuaikan diri dengan lingkungan panas.
ACGIH  (American Conference of Industrial Hygienist) memberikan nilai ambang batas (NAB) untuk paparan bekerja dilingkungan panas. Tujuan dari penentuan NAB adalah untuk menjaga agar suhu tubuh berada pada kondisi normal atau dibawah 38 deg C.
ACGIH 2006 TLV Screening Criteria for Heat Stress Exposure (WBGT values in degrees C)
 
Acclimated
Un-acclimated
Work Demands

Light

Moderate

Heavy
Very
Heavy

Light

Moderate

Heavy
Very
Heavy
100% Work
29.5
27.5
26

27.5
25
22.5

75% Work; 25% Rest
30.5
28.5
27.5

29
26.5
24.5

50% Work; 50% Rest
31.5
29.5
28.5
27.5
30
28
26.5
25
25% Work; 75% Rest
32.5
31
30
29.5
31
29
28
26.5
Nilai temperature yang tercantum didalam table diatas adalah merupakan hasil pengukuran dengan menggunakan heat stress monitoring atau dikenal dengan WBGT (baca wibget). Nilai WBGT merupakan fungsi dari kelembaban, radiasi panas dan temperature normal. Jadi tidak bisa hanya diukur dengan thermometer biasa dan kemudian digunakan pada table diatas.
Cara membaca table ACGIH diatas:
Kolom acclimated adalah untuk pekerja yang sudah terbiasa bekerja pada lingkungan panas dan Un-acclimated adalah untuk pekerja yang belum terbiasa bekerja dengan lingkungan panas atau pekerja baru. Biasanya kondisi daya tahan tubuh seseorang bisa menurun jika sudah lama tidak bekerja pada lingkungan panas, maka dalam hal ini digunakan kolom un-acclimated. Jika hasil pembacaan WBGT adalah 28.5 deg C, maka untuk pekerja yang sudah biasa dengan lingkungan panas (acclimated) boleh 50% bekerja dan 50% istirahat untuk kategori pekerjaan berat dalam setiap jamnya, jika pekerjaan sedang maka 75% bekerja dan 25% istirahat dalam setiap jamnya. Namun untuk pekerja yang un-acclimated maka 25% bekerja dan 75% istirahat untuk pekerjaan berat dalam setiap jamnya, atau 50% bekerja dan 50% istirahat untuk pekerjaan sedang dalam setiap jamnya. Definisi beban kerja menurut ACGIH adalah sebagai berikut:
  • Kerja ringan  :Adalah pekerjaan dengan menggunakan mesin dan tidak menggunakan tenaga, pekerja berdiri atau duduk dalam mengoperasikan mesin tersebut.
  • Kerja Sedang  :Berjalan sambil mengangkat atau mendorong benda dengan berat sedang seperting scrubbing dalam posisi berdiri.
  • Berat :Menyekop pasir Bering, memotong dengan gergaji.
  • Sangat berat :Menyekop pasir basah.
Di Indonesia juga ada SNI yang mengatur tentang nilai ambang batas iklim kerja, yaitu SNI 16-7063-2004. Tabel berikut menunjukan nilai ambang batas pengendalian iklim kerja (panas).
Pengaturan waktu kerja setiap jam
ISBB (°C)
Waktu Kerja
Waktu Istirahat
Beban Kerja
Ringan
Sedang
Berat
75%
25%
30.6
28.0
25.9
50%
50%
31.4
29.4
27.9
25%
75%
32.2
31.1
30.0
Kriteria beban kerja menurut SNI:
– Beban kerja ringan membutuhkan kalori 100 – 200 kilo kalori/jam.
– Beban kerja sedang membutuhkan kalori lebih besar 200 – 350 kilo kalori/jam.
– Beban kerja berat membutuhkan kalori lebih besar dari 350–500 kilo kalori/jam.
Keputusan menteri tenaga kerja nomor  KEP–51/MEN/I999 tentang nilai ambang batas faktor fisika di tempat kerja juga memberikan nilai batasan yang sama dengan SNI tersebut diatas.

 

21" Manajemen Standar Untuk Menangani Stress Kerja (Work-Related Stress)

Manajemen Standar Untuk Menangani Stress Kerja (Work-Related Stress)

Stress adalah suatu kondisi yang dinamis saat seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting. Stress adalah beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu sendiri, sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat. Stres tidak selalu buruk, walaupun biasanya dibahas dalam konteks negatif, karena stres memiliki nilai positif ketika menjadi peluang saat menawarkan potensi hasil. Sebagai contoh, banyak profesional memandang tekanan berupa beban kerja yang berat dan tenggat waktu yang mepet sebagai tantangan positif yang menaikkan mutu pekerjaan mereka dan kepuasan yang mereka dapatkan dari pekerjaan mereka. Stres bisa positif dan bisa negatif. Para peneliti berpendapat bahwa stres tantangan, atau stres yang menyertai tantangan di lingkungan kerja, beroperasi sangat berbeda dari stres hambatan, atau stres yang menghalangi dalam mencapai tujuan. Meskipun riset mengenai stres tantangan dan stres hambatan baru tahap permulaan, bukti awal menunjukan bahwa stres tantangan memiliki banyak implikasi yang lebih sedikit negatifnya dibanding stres hambatan. (Sumber Wikipedia).
Mengapa kita perlu untuk mengatasi stress?
  • Sekitar 1 dari 5 orang mengatakan bahwa mereka mengalami stress atau sangat stress dalam pekerjaan mereka.
  • Lebih dari setengah juta orang melaporkan mengalami sakit akibat dari stress pekerjaan.
  • Setiap kasus sakit akibat stress kerja mengakibatkan kehilangan 29 hari waktu kerja. Sebanyak 13,4 juta hari total kehilangan waktu kerja pada tahun 2001.
  • Kerugian atau biaya yang dikeluarkan untuk penyakit akibat stress kerja berkisar antara £ 37 Miliar – £ 38 Miliar setahun (1995-1996).
(Sumber Health and Safety Executive).
Mengingat demikian besarnya dampak kerugian yang diakibatkan oleh stress kerja, maka Health and Safety Executive (HSE) di UK membuat manajemen standar untuk mengatasi atau mengurangi stress di tempat kerja. Guidance atau manajemen standar yang dikeluarkan oleh HSE mencakup enam (6) elemen penting dalam mengendalikan stress kerja ditempat kerja. Jika enam elemen tersebut tidak ditangani dengan baik, maka akan dapat berdampak terhadap kesehatan pekerja, kesejahteraan pekerja, produktivitas kerja, kecelakaan kerja, kenyamanan bekerja, hubungan kerja, dan lain-lain. Enam elemen penting yang harus ditangani secara baik dan berkelanjutan adalah sebagai berikut:
  1. Tuntutan – seperti beban kerja, pola kerja dan lingkungan kerja.
  2. Kontrol – berapa banyak pekerja mengatakan bahwa mereka telah melakukan pekerjaan mereka sesuai SOP namun gagal.
  3. Dukungan – seperti dorongan, motivasi, kelengkapan sumber daya.
  4. Hubungan – misalnya mempromosikan perilaku positif untuk mencegah konflik terhadap perilaku negatif.
  5. Peran/tanggung jawab – apakah para pekerja benar-benar sudah memahami tanggung jawab mereka didalam organisasi dan apakah sudah tidak ada konflik tanggung jawab didalam organisasi.
  6. Perubahan – apakah setiap perubahan sudah dikomunikasikan dengan baik kepada seluruh pekerja.
Berikut akan kita lihat guideline (manajemen standar) untuk masing-masing elemen agar lebih mudah untuk diterapkan ditempat kerja.

Elemen 1: Tuntutan

Standar:
  • Pekerja harus mampu menunjukkan bahwa mereka dapat mengatasi tuntutan kerja yang diberikan kepada mereka.
  • Terdapat sistem atau proses untuk menanggapi setiap keluhan pekerja.
Kondisi yang harus dicapai:
  • Perusahaan memberikan beban kerja atau tuntuan kerja yang sesuai atau dapat dicapai/diselesaikan berdasarkan waktu kerja yang disepakati.
  • Tuntutan pekerjaan yang diberikan disesuaikan dengan keterampilan dan kemampuan pekerja.
  • Pekerjaan yang diberikan harus sesuai dengan kemampuan pekerja.
  • Keluhan pekerja terhadap pekerjaan harus dibicarakan penyelesaiannya.

Elemen 2: Kontrol

Standar:
  • Pekerja dapat menunjukkan bahwa mereka mampu menjelaskan cara kerja yang mereka lakukan.
  • Terdapat sistem atau proses untuk menanggapi setiap keluhan pekerja.
Kondisi yang harus dicapai:
  • Pekerja harus mampu mengontrol pekerjaan mereka.
  • Perusahaan mendoronga pekerja untuk menggunakan keterampilan dan inisiatip dalam melakukan pekerjaan mereka.
  • Perusahaan mendorong pekerja untuk mengembangkan keterampilan baru untuk membantu mereka dalam mengahadapi tantangan baru didalam bekerja.
  • Perusahaan mendorong pekerja untuk mengembangkan keterampilan mereka.
  • Pekerja memiliki otoritas untuk mengambil waktu istirahat.
  • Pekerja dapat berkonsultasi atas pola kerja mereka.

Elemen 3: Dukungan

Standar:
  • Pekerja dapat menunjukkan bahwa mereka menerima informasi dan dukunganyang memadai dari atasan dan rekan-rekan kerja mereka.
  • Terdapat sistem atau proses untuk menanggapi setiap keluhan pekerja.
Kondisi yang harus dicapai:
  • Perusahaan harus memiliki kebijakan dan prosedur yang cukup untuk mendukung pekerja.
  • Terdapat sistem atau proses yang memungkinkan manajer untuk mendorong dan mendukung staff mereka.
  • Terdapat sistem atau proses yang memungkinkan pekerja secara aktif mendorong dan mendukung rekan-rekan kerja mereka.
  • Pekerja mengetahui dukungan apa yang tersedia dan bagaimana untuk mengaksesnya.
  • Pekerja mengetahui bagaimana untuk mengakses sumber daya yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan mereka.
  • Pekerja menerima umpan balik secara berkala dan konstruktif.

Elemen 4: Hubungan

Standar:
  • Pekerja menunjukkan bahwa mereka tidak mengalami perlakuan yang tidak dapat diterima, misalnya intimidasi ditempat kerja.
  • Terdapat sistem atau proses untuk menanggapi setiap keluhan pekerja.
Kondisi yang harus dicapai:
  • Perusahaan mempromosikan perilaku positip ditempat kerja untuk menghindari konflik dalam menjamin keadilan.
  • Pekerja berbagi informasi yang relevan dengan pekerjaan mereka.
  • Perusahaan memiliki kebijakan dan prosedur untuk mencegah perilaku atau perlakuan yang tidak dapat diterima.
  • Terdapat sistem atau proses yang memungkinkan dan mendorong manajer untuk menangani perilaku atau perlakuan tidak dapat diterima.
  • Terdapat sistem atau proses yang memungkinkan atau mendorong pekerja untuk melaporkan perilaku atau perlakuan yang tidak dapat diterima.

Elemen 5: Peran dan Tanggung Jawab

Standar:
  • Pekerja dapat menunjukkan bahwa mereka memahami peran dan tanggung jawab mereka didalam pekerjaan mereka.
  • Terdapat sistem atau proses untuk menanggapi setiap keluhan pekerja.
Kondisi yang harus dicapai:
  • Perusahaan harus memastikan penempatan pekerja pada tempat yang sesuai.
  • Perusahaan harus memberikan dan menyediakan informasi yang memungkinkan pekerja untuk memahami peran dan tanggung jawab mereka.
  • Perusahaan harus membuat persyaratan yang jelas untuk setiap peran dan tanggung jawab kerja.
  • Terdapat sistem atau proses yang memungkinkan pekerja untuk menyampaikan setiap konflik atau masalah yang muncul didalam peran dan tanggung jawab kerja mereka.

Elemen 6: Perubahan

Standar:
  • Pekerja dapat menunjukkan bahwa perusahaan melibatkan mereka didalam melakukan perubahan.
  • Terdapat sistem atau proses untuk menanggapi setiap keluhan pekerja.
Kondisi yang harus dicapai:
  • Perusahaan memberikan kesempatan atau waktu yang cukup kepada pekerja untuk memahami alasan-alasan perubahan yang diusulkan.
  • Perusahaan memberikan kesempatan kepada pekerja untuk berkonsultasi tentang perubahan dan memberikan kesempatan kepada pekerja untuk memberikan masukkan.
  • Pekerja menyadari dampak dari setiap perubahan pekerjaan dan jika perlu pekerja diberikan training untuk mendukung perubahan tersebut.
  • Pekerja mengetahui waktu atau jadual untuk perubahan.
  • Pekerja memiliki akses untuk mendapatkan dukungan yang relevan selama perubahan.
Bagaimana tahapan penerapan guideline penanganan stress ditempat kerja?
Ada lima (6) tahapan yang harus dilakukan dalam menerapkan standar ini, yaitu:
  1. Menyiapkan organisasi untuk menerapkan manajemen standar penanganan stress ditempat kerja, seperti komitmen top manajemen untuk mendukung program ini, menyediakan sumber daya yang cukup dan team yang akan bekerja untuk program ini.
  2. Melakukan identifikasi faktor-faktor risiko stress ditempat kerja dengan terlebih dahulu memahami standar penanganan stress ditempat kerja.
  3. Mengumpulkan data-data pekerja yang mengalami stress dan bagaimana hal tersebut dapat terjadi.
  4. Melakukan evaluasi terhadap data-data stress yang diperoleh dan mencari solusi yang mungkin dilakukan.
  5. Membuat rencana tindakan atau program penanganan stress dan menerapkan rencana tersebut.
  6. Melakukan tinjauan ulang dan kajian efektifitas program penanganan stress yang diterapkan.

sumber http://healthsafetyprotection.com/manajemen-standar-untuk-menangani-stress-kerja-work-related-stress/

 

20" Alat Pelindung Pendengaran (Hearing Protection)

Alat Pelindung Pendengaran (Hearing Protection)

Bagaimana melindungi pendengaran dari kebisingan?
Metode untuk mencegah tuli akibat kerja adalah dengan mengurangi kebisingan dari sumbernya dengan metode rekayasa. Namun, dalam kondisi kerja tertentu, sangat sedikit atau tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengurangi kebisingan pada sumbernya. Di tempat kerja seperti ini, pekerja mengenakan pelindung pendengaran (hearing protection) untuk mengurangi jumlah suara mencapai telinga.
Apa beberapa hal yang harus diketahui tentang cara memilih alat perlindung pendengaran?
Kita harus memakai pelindung pendengaran (hearing protection) jika kebisingan atau tingkat suara di tempat kerja melebihi 85 desibel. Pelindung pendengaran berfungsi mengurangi tingkat kebisingan paparan dan risiko gangguan pendengaran.
Jika perlindungan pendengaran (hearing protection) diperlukan, maka program konservasi pendengaran yang lengkap sebaiknya dikembangkan. Sebuah program konservasi pendengaran meliputi penilaian kebisingan, pemilihan alat pelindung pendengaran, pelatihan karyawan, pengujian audiometri, pemeliharaan, inspeksi, pencatatan, dan evaluasi program.
Efektivitas perlindungan pendengaran (hearing protection) akan sangat berkurang jika alat pelindungan pendengaran tidak fit atau tepat saat digunakan atau jika hanya dikenakan sebagian waktu selama periode paparan kebisingan. Untuk menjaga efektivitas alat pelindung, maka alat pelindung pendengaran tersebut tidak boleh dimodifikasi
Pemilihan alat pelindung pendengaran (hearing protection) berdasarkan pada:
  • Kesesuaian dengan jenis pekerjaan.
  • Memberikan perlindungan yang memadai. Periksa literatur produsen.
  • Nyaman untuk dipakai.
Apa jenis pelindung pendengaran (hearing protection) yang tersedia?
Ada tiga jenis alat pelindung pendengaran (hearing protection), yaitu:
  1. Ear Plug  dimasukkan untuk memblokir saluran telinga. Ear plug berbentuk premolded (preformed) atau moldable (busa). Ear plug umumnya dijual sebagai produk sekali pakai (disposable) atau dapat digunakan kembali (reusable).
  2. Semi-insert ear plugs à terdiri dari dua ear plug yang dipasang diujung head band.
  3. Ear muff  Penutup telinga yang terbuat dari bahan yang lembut yang dapat menurunkan kebisingan dengan cara menutupi semua bagian telinga dan ditahan/dipegang oleh head band.
 Bagaimana cara memilih alat pelindung pendengaran (hearing protection) yang tepat?
Pilihan alat pelindung pendengaran sangat tergantung pada sejumlah faktor termasuk tingkat kebisingan, kenyamanan, dan kesesuaian alat pelindung pendengaran bagi pekerja dan lingkungannya. Yang paling penting, alat pelindung pendengaran harus memberikan pengurangan kebisingan yang diinginkan. Jika paparan kebisingan adalah intermiten, maka ear muff  lebih tepat digunakan, karena mungkin kurnag nyaman untuk memasukan dan mengeluarkan ear plug.
Bagaimana saya bisa mengetahui berapa besar alat pelindung pendengaran bisa mengurangi paparan kebisingan?
Produsen memberikan informasi tentang kemampuan pengurangan kebisingan dari alat pelindung pendengaran atau dikenal dengan NRR (Noise Reduction Rating). Nilai NRR didasarkan pada pengurangan kebisingan yang diperoleh dalam kondisi laboratorium.
Bagaimana cara menggunakan nilai NRR untuk menentukan perlindungan yang diberikan oleh alat pelindung pendengaran (hearing protection)?
NIOSH merekomendasikan menggunakan data sesuai dengan subjek berdasarkan ANSI S12.6-1997 untuk memperkirakan redaman kebisingan pelindung pendengaran.
Jika data sesuai subjek tidak tersedia, NIOSH merekomendasikan de-rating pelindung pendengaran dengan faktor yang sesuai dengan data yang tersedia. Secara khusus, NIOSH merekomendasikan bahwa label NRRs akan de-rated sebagai berikut:
• Ear Muff – Kurangi 25% dari label NRR produsen
• Formable ear plug – Kurangi 50% dari label NRR produsen
• Semua jenis ear plug yang lain – Kurangi 70% dari label NRR produsen
Actual Noise Reduction Rating (NRR) juga dapat dihitung dengan rumus berikut:
Actual NRR      = (NRR – 7) / 2
Contoh:
NRR = 29dB (dari label manufaktur)
Actual NRR       = (NRR – 7) / 2
Actual NRR       = (29 – 7)/ 2 = 11 dB
Maka actual NRR dari alat pelindung tersebut adalah 11 dB.
Apa keuntungan dan keterbatasan dari ear plug dan ear muff?
Ear plug dapat diproduksi secara massal atau secara individu dibentuk agar sesuai dengan telinga, dan ear plug dapat digunakan kembali atau sekali pakai. Di sisi positif, ear plug mudah digunakan, lebih murah dari pada ear muff, dan lebih nyaman dalam wilayah kerja panas atau lembab. Di sisi negatif, ear plug kurang memberikan perlindungan jika dibandingkan dengan ear muff, dan tidak boleh digunakan di daerah yang memiliki tingkat kebisingan lebih dari 105 dB. Ear plug tidak terlihat saat digunakan sebagaimana halnya ear muff sehingga pengawas tidak mudah untuk melihat apakah pekerja memakainya. Dan ear plug harus benar dimasukkan untuk memberikan perlindungan yang memadai.
Ear Muff dapat bervariasi berdasarkan bahan, kedalaman penutup, dan kekuatan ikat kepala (head band). Penutup yang lebih dalam dan lebih berat, akan semakin memberikan perlindungan yang lebih baik. Ikat kepala harus cukup erat dan kuat untuk mempertahankan posisi yang stabil, namun tidak terlalu ketat untuk kenyamanan. Di sisi positif, ear muff biasanya dapat memberikan perlindungan lebih besar dari pada ear plugs.  Ear muff lebih mudah untuk menyesuaikan, umumnya lebih tahan lama dari ear plugs, dan ear muff memiliki bagian yang dapat diganti. Di sisi negatif, ear muff lebih mahal, dan sering kurang nyaman daripada ear plugs, khususnya di wilayah kerja panas. Di daerah di mana tingkat kebisingan yang sangat tinggi, ear muff dan ear plug dapat dipakai bersama-sama untuk memberikan perlindungan yang lebih baik.
Tabel berikut merangkum perbedaan antara ear plugs dan ear muff:
Ear Plugs Ear Muff
Keuntungan:
  • kecil dan mudah dibawa
  • Nyaman untuk digunakan dengan peralatan perlindungan pribadi lainnya (bisa dikenakan dengan ear muff)
  • Llebih nyaman dipakai untuk waktu yang lama di tempat yang panas atau lembab.
  • Nyaman untuk digunakan di daerah kerja terbatas
Keuntungan:
  • Variabilitas atunuasi antar pengguna sedikit.
  • Dirancang sedemikian rupa sehingga satu ukuran cocok  semua ukuran kepala.
  • Mudah terlihat di kejauhan untuk membantu dalam pemantauan penggunaan
  • Tidak mudah salah tempat atau hilang
  • Dapat dipakai pada pekerja dengan infeksi telinga ringan
Kerugian:
  • Mmbutuhkan lebih banyak waktu untuk menyesuaikan.
  • Lebih sulit untuk memasukkan dan mengeluarkan
  • Memerlukan praktik kebersihan yang baik
  • Dapat mengiritasi saluran telinga
  • Mudah salah penempatan
  • Lebih sulit untuk melihat dan memantau penggunaan
Kerugian:
  • Kurang portable dan lebih berat
  • Kurang nyaman untuk digunakan dengan peralatan pelindung pribadi lainnya.
  • Kurang nyaman di tempat yang panas dan lembab.
  • Kurang nyaman untuk digunakan di daerah kerja terbatas
  • Dapat terganggu jika memakai kacamata keselamatan: aka ada celah antara seal ear muff dengan kulit karena terganjal frame kaca mata yang berakibat penurunan perlindungan pendengaran
Mengapa begitu penting preferensi pengguna?

Aspek manusia dalam pemilihan alat perlindungan pendengaran (hearing protection) adalah sangat penting karena alat pelindungan pendengaran akan efektif jika digunakan secara benar oleh pengguna. Mungkin beberapa orang tidak cocok dengan jenis tertentu dari alat pelindung; setiap manusia berbeda,  anatomi telinga dan saluran telinga dapat bervariasi secara signifikan dari orang ke orang.
Sebaiknya management menyediakan beberapa jenis alat perlindungan pendengaran (hearing protection) sehingga para pekerja dapat memilih yang sesuai dengan mereka. Harap selalu diingat faktor keselamatan dan hygiene dalam memilih alat pelindung pendengaran. Artinya, jenis tertentu dari pelindung tidak boleh digunakan jika tingkat kebisingan yang terlalu tinggi atau jika terbukti tidak memadai dari sudut pandang higienis. Sebagai contoh, ear plugs yang digunakan berulang ulang tanpa memperhatikan kebersihan, dapat memasukkan kotoran dan bakteri ke dalam telinga, dan dapat menyebabkan infeksi telinga.
Intinya adalah jika pekerja merasa tidak cocok dengan jenis alat perlindungan (misalnya, tidak nyaman, tidak terlalu pas, atau tidak praktis), mereka tidak akan memakainya.
Apa yang harus diketahui tentang fit dari alat pelindung pendengaran (hearing protection)?

Ikuti instruksi manufaktur. Untuk ear plug, misalnya, telinga harus ditarik ke luar dan ke atas dengan tangan yang berlawanan untuk memperbesar dan meluruskan saluran telinga, dan masukkan ear plug dengan tangan yang bersih. Pastikan ear plug masuk dan menutup saluran telinga secara maksimal, atau penutup ear muff menutup rapat dan menempel dikulit secara maksimal.
Apa yang terjadi pada tingkat perlindungan ketika alat pelindung pendengaran hanya digunakan  untuk periode waktu yang singkat?

Dalam rangka untuk mendapatkan manfaat penuh, pelindung pendengaran harus dikenakan sepanjang waktu selama bekerja dalam kebisingan. Jika pelindung pendengaran dikeluarkan hanya untuk jangka waktu pendek, perlindungan secara substansial berkurang. Tabel berikut memberikan perlindungan maksimum yang disediakan untuk non-kontinyu penggunaan alat pelindung yang dipasang “100%” fit melindungi. Sebagai contoh jika seseorang melepas pelindung pendengaran selama 5 menit dalam pergeseran 8-jam, perlindungan maksimal akan menjadi 20 dB. Tabel berikut memberikan contoh-contoh lainnya. 
Perlindungan Maksimum dari Penggunaan
Alat Pelindung Pendengaran Secara Tidak Kontinu
Persen Waktu Pemakaian
Maksimum Perlindungan
50%
3 dB
60%
4 dB
70%
5 dB
80%
7 dB
90%
10 dB
95%
13 dB
99%
20 dB
99.9%
30 dB
Maka gunakanlah selalu secara penuh waktu alat pelindung pendengaran untuk mendapatkan perlindungan maksimum.
Bagaimana merawat alat perlindungan pendengaran?
  • Ikuti petunjuk produsen.
  • Periksa secara teratur untuk memeriksa kerusakan dan keausan.
  • Ganti bantal telinga atau colokan yang tidak lentur lagi.
  • Ganti unit head band apabila sudah longgar sehingga penutup telingga tidak menempel dengan sempurna.
  •  Bongkar ear muff untuk dibersihkan.
  •  Cuci ear muff dengan deterjen cair ringan di air hangat, dan kemudian bilas dengan air hangat. Pastikan bahwa bahan peredam suara di dalam penutup telingga tidak basah.
  • Gunakan sikat yang halus untuk menghilangkan minyak dan kotoran yang dapat mengeraskan bahan  penutup telinga.

sumber http://healthsafetyprotection.com/alat-pelindung-pendengaran-hearing-protection/

 

19" Mekanisme Alat Perlindungan Pernapasan (Respirator)

 Mekanisme Alat Perlindungan Pernapasan (Respirator)

Respirator atau lebih popular dikenal dengan masker adalah alat yang digunakan untuk perlindungan pernapasan terhadap udara yang terkontaminasi. Sebenarnya istilah masker kurang tepat digunakan untuk respirator. Masker umumnya digunakan untuk melindungi lingkungan dari kontaminan dari pengguna masker, misalnya para pekerja di industri makanan menggunakan masker untuk melindungi makanan dari kontaminasi air ludah pekerja, atau suster di rumah sakit menggunakan masker untuk melindungi pasien dari kontaminasi suster atau dokter. Karena masker tidak fit kewajah sehingga tidak bisa digunakan untuk melindungi sipemakai. Sementara respirator harus fit kewajah sehingga bisa melindungi sipengguna dari kontaminan lingkungan. Secara garis besar respirator terbagi menjadi empat jenis , yaitu:
  1. Nonpower Air Purifying Respirator (NAPR)
  2. Powered Air-Purifying Respirator (PAPR)
  3. Supplied-Air Respirator (SAR)
  4. Self Contained Breathing Apparatus (SCBA)
Berikut akan dijelaskan secara ringkas ke empat jenis respirator tersebut diatas.
1.    Nonpower Air Purifying Respirator (NAPR)
NAPR adalah pemurni udara dari kontaminan dan hanya dapat digunakan pada atmosfer yang mengandung oksigen minimal 19.5%. NAPR memurnikan udara yang terkontaminasi oleh partikel, aerosol, uap dan gas sebelum udara tersebut masuk kedalam sistem pernapasan. Aliran udara kedalam sistem pernapasan melalui NAPR dialirkan secara alami oleh pernapasan sipengguna tanpa adanya bantuan dari sistem lain. Ada dua jenis NAPR yaitu Respirator gas & uap dan particulate respirator.
Respirator Gas dan Uap
Respirator gas dan uap umumnya dikenal dengan “Chemical Cartridge Respirator atau Gas Masks”. Perbedaannya adalah kalau gas masks menggunakan elemen pemurni udara yang disebut canister dengan ukuran lebih besar dari cartridge yang digunakan pada chemical cartridge respirator. Gas dan uap ditangkap oleh sorbent (bahan penyerap gas dan uap) dan menyimpannya, kemampuan serap sorbent sangat tergantung dari jenis dan luas permukaan yang dapat menyerap uap dan gas. Umumnya sorbent memiliki permukaan luas yaitu sekitar 1500 m2 / gram. Gas atau uap yang melewati sorbent akan terikat pada permukaan sorben baik secara fisik atau secara kimia yang dikenal dengan absorbsi. Absorbsi adalah kemampuan sorben untuk mengikat melekul gas atau uap baik secara kimia atau fisika. Biasanya daya ikat fisik dari sorben lemah dan bisa lepas kembali. Ikatan kimia biasanya lebih kuat dari ikatan fisik, untuk uap dan gas biasanya digunakan karbon aktif yang sudah ditreatmen atau ditambahkan dengan bahan kimia khusus agar besifat selective untuk mengikat gas atau uap tertentu. Ikatan kimia biasanya tidak bersifat reversible seperti halnya ikatan fisik. Catridge dan canister memiliki kemampuan serap yang tinggi pada awal penggunaan dan akan mengalami penurunan hingga akhir masa pakai (masa jenuh). Lama masa jenuh sangat tergantung dari konsentrasi uap atau gas diudara dan perawatan terhadap respirator tersebut. Canister atau catridge harus diganti sebelum jenuh, tidak ada ketentuan yang ditetapkan oleh OSHA berapa lama catridge atau canister bisa digunakan, tapi OSHA memberikan petunjuk kapan harus dilakukan penggantian. Ada dua metoda yang dapat dilakukan untuk mengetahui apakah catridge atau canister sudah harus diganti, yaitu pertama yaitu dengan melihat indikator end of service life yang terdapat pada canister atau catridge dan yang kedua adalah dengan mengembangkan jadual penggantian berdasarkan petunjuk OSHA. Informasi penggantian dapat diperoleh dari pembuat atau pemasok respirator tersebut. Respirator gas dan uap ini tidak boleh digunakan pada kondisi IDLH (Immediate Dangereous to Life and Health) atmosfir atau kondisi konsentrasi oksigen dibawah 19.5%. Gas masker boleh digunakan untuk proses penyelamatan jika tidak kekurangan oksigen (>19.5%). Respirator gas dan uap tidak boleh digunakan untuk masuk kekondisi lingkungan yang memiliki konsentrasi uap atau gas dengan tingkat bahaya yang tinggi dan menunjukkan tingkat kehidupan yang rendah pada konsentrasi maksimum. Ada respirator khusus untuk bahan kimia berbahaya seperti vinil klorida dan formaldehid yang telah disetujui oleh NIOSH, karena pengunaan respirator uap organik biasa tidak bisa digunakan karena keterbatasan kemampuan sorben. Anda sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan pembuat atau pemasok dalam menentukan jenis respirator yang akan digunakan dan hendaklah selalu mengacu pada standar internasional yang sudah ditetapkan.
Particulate Respirators
Particulate respirator digunakan untuk memurnikan udara dari partikel-partikel yang tersuspensi di udara (aerosol). Filter dari respirator menangkap partikel atau aerosol dari udara dengan metoda penyaringan, sehingga udara yang melewati respirator menjadi bersih dari particulate. Mekanisme filtrasi oleh fiber ini disebut juga penyaringan secara mekanik, dan ini akan sangat tergantung dari kerapatan (density serat dari filter. Untuk meningkatkan daya saring dari respirator, biasanya diberikan muatan listrik statis (elektrostatis) pada bahan fiber sehingga mampu menyaring partikel yang jauh lebih kecil. Efisiensi dari penyaring partikel juga sangat ditentukan oleh ukuran partikel, secara umum partikel dengan ukuran 0.1 – 1.0 mikron sangat sulit untuk ditangkap, artinya tingkat penetrasinya tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa partikel dengan ukuran 0.3 mikron adalah partikel yang paling tinggi tingkat penetrasinya atau paling sulit untuk ditangkap. Maka partikel dengan ukuran 0.3 mikron dijadikan standar untuk menentukan efisiensi dari suatu respirator partikel. Sebagai contoh jikan suatu repirator memiliki spesifikasi N95, ini artinya bahwa respiraor tersebut memiliki efesiensi penyaring 95% terhadap partikel dengan ukuran 0.3 mikron. NIOSH mengklasifikasikan nonpowerd air-purifying respirator menjadi 3 series, yaitu :
  1. N Series – Not resistant to Oil. Respirator dengan kode N menunjukkan bahwa respirator tersebut tidak bisa digunakan dalam lingkungan atau atmosfer yang mengadung oil aerosol, atau hanya bisa digunakan untuk area yang free dari oil aerosol atau partikel yang berminyak.
  2. R series – Resistant to Oil. Dapat digunakan untuk lingkungan yang mengandung oil aresol di atmosfernya atau partikel yang berminyak.
  3. P series – Oil Proof. Dapat digunakan untuk lingkungan yang mengandung oil aresol di atmosfernya atau partikel yang berminyak.
Selanjutnya NIOSH juga mengklasifikasikan efesiensi dari respirator ini menjadi tiga kelas tingkatan penetrasi, yaitu:
  1. Keals 100%, yaitu repirator yang mampu menyaring partikel dengan ukuran 0.3 mikron hingga >/=99.97% (efesiensi >/=99.97%)
  2. Kelas 99%, yaitu respirator yang mampu menyaring partikel dengan ukuran 0.3 mikron hingga >/=99% (efisiensi >/=99%)
  3. Kelas 95%, yaitu respirator yang mampu menyaring partikel dengan ukuran 0.3 mikron hingga >/=95% (efisiensi >/=95%)
Sekali lagi yang harus digaris bawahi adalah bahwa penentuan kelas tersebut diatas adalah berdasarkan pengujian dengan menggunakan partikel yang paling tinggi tingkat penetrasinya yaitu 0.3 mikron. Artinya partikel-partike dengan ukuran yang lebih besar atau lebih kecil dari 0.3 mikron akan memiliki tingkat penetrasi yang lebih rendah atau efisiensi dari respirator tersebut akan lebih tinggi terhadap partikel-partikel tersebut.
2. Powered Air-Purifying Respirator (PAPR)
PAPR adalah respirator pemurni udara dengan menggunakan pompa udara untuk mendorong atau menarik udara menuju respirator atau penyaring. Umumnya pompa atau blower udara tersebut menggunakan baterai.Adabentuk PAPR yaitu half mask, full facepiece, loose fitting facepiece helmets or hoods. NIOSH hanya mensyaratkan bahwa PAPR harus menggunakan HEPA filter efesiensi tinggi yang sudah diuji ketahanannya terhadap panas pada kondisi uji yang sudah ditetapkan. Karena PAPR adalah sistem pemurnian udara maka PAPR tidak boleh digunakan pada area Immediate Dangerous to Life and Health (IDLH) atau pada area yang kondisi atmosfernya mengandung oksigen dibawah 19.5%.
3. Supplied-Air Respirator (SAR)
SAR merupakan respirator dengan sistem pemberian udara segar dari luar area yang terkontaminasi, supply udara menggunakan selang dari tanki penyimpanan udara. SAR tidak memiliki filter kontaminan udara ataupun catridge. Jadi kualitas udara yang disuplai sangat tergantung dari udara luar sumber penyimpan udara eksternal. SAR juga hanya digunakan untuk lingkungan yang bukan IDLH. Ada tiga tipe SAR yaitu tipe A, B dan C. Tipe A dan B dikenal dengan masker selang dan tidak banyak digunakan. Tipe C dikenal dengan airline respirator yang dapat dilengkapi dengan half mask, full facepiece dan loose fitting facepiece helmets or hoods dengan tekanan udara tidak lebih dari 125 psi yang disuplai dengan selang udara. Jika menggunakan sistem tightfitting respiratory inlet coverings maka minimum aliran udara adalah 115 Lpm dan jika menggunakan loose-fitting respiratory inlet coverings maka minimum aliran udara adalah 170 Lpm. Dan Maksimum aliran udara untuk airline respirator adalah 425 Lpm. NIOSH mensertifikasi tipe “CE” mengacu pada tipe C SAR yang dirancang untuk abrasif blasting yang memiliki penutup bagian luar untuk melindungi pemakainya dari pantulan balik dari bahan abrasif. Panjang selang untuk perangkat tipe C diperolehkan 15, 25, atau 50 ft  sampai dengan maksimum 300 ft. Maksimum tahanan inhalasi dan exhalasi adalah 50mmH2O.
4. Self Contained Breathing Apparatus (SCBA)
Self Contained Breathing Apparatus atau dikenal dengan SCBA adalah alat bantu atau pernapasan untuk waktu tertentu sesuai dengan jumlah oksigen yang tersedia pada alat tersebut. SCBA menyimpan udara (oksigen) terkompresi, terkompresi atau oksigen cair, atau bahan kimia yang menghasilkan oksigen. Alat ini tidak memerlukan pasokan udara dari tempat lain atau dari luar. SCBA diklasifikasikan sebagai open-circuit atau closed circuit devices. Dalam rangkaian terbuka (open circuit) aliran pernapasan dibuang keluar atau ke atmosfer. Dan dalam rangkaian tertutup (closed circuit) aliran pernapasan disimpan didalam respirator untuk selanjutnya ditangkap CO2 dan moisture yang ada dan direkondisi dengan oksigen segar.
SCBA biasanya digunakan pada area yang kontaminasi udaranya sangat tinggi, sehingga perlu juga diperhatikan kemungkinan paparan terhadap tubuh seperti kulit. Uap dan gas tertentu pada konsentrasi tinggi dapat merusak bagian tubuh lain selain pernapasan. Misalnya udara yang terkontaminasi ammonia pada konsentrasi sekitar 3% dapat menyebabkan luka bakar pada kulit. Asam Hydrocyanic dalam bentuk gas, pada suhu sedikit diatas suhu kamar dapat menembus kulit dan menyebabkan keracunan sistemik. Untuk menghindari potensi bahaya terhadap bagian tubuh lain, maka sangat disarankan untuk memilih pakaian pelindung yang tepat.

18" Jenis-Jenis Alat Pemadam Kebakaran Portable (Portable Fire Extinguisher)

Jenis-Jenis Alat Pemadam Kebakaran Portable (Portable Fire Extinguisher)

Alat pemadam portable didisain untuk digunakan oleh seseorang yang menemukan adanya api atau kebakaran. Jenis alat pemadam yang digunakan tergantung dari jenis bahan yang terbakar. Berikut akan dijelaskan secara ringkas beberapa jenis alat pemadam portable.

I. Water (gas cartridge type) extinguishers, Warna Merah

Alat pemadam ini menggunakan air dan karbon dioksida sebagai baham pemadam. Jenis pemadam ini cocok untuk memadamkan api yang membakar kertas dan kayu. Dan tidak boleh digunakan pada area-area yang terdapat peralatan yang menggunakan listrik atau cairan kimia organic yang tidak larut didalam air. Akhir-akhir ini sudah dikembangkan alat pemadam yang menggunakan air yang mengandung foaming agent (bahan pembentuk busa) yang dikenal dengan AFFF yang dapat digunakan untuk kebakaran pada cairan kimia mudah terbakar dan peralatan listrik.

II. Carbon dioxide extinguishers, warna hitam

Jenis pemadam ini menggunakan CO2 (karbon dioksida) sebagai bahan pemadam. Alat pemadan ini akan mengeluarkan awan karbon dioksida dan partikel COP padat pada saat digunakan. Jenis pemadam ini digunakan untuk area dimana terdapat peralatan elektronik sehingga peralatan tersebut tidak rusak, seperti instrument laboratorium, server, komputer, dsb.  Jenis pemadam ini tidak boleh digunakan pada area confine space atau basemen karena awan karbon dioksida dapat membahayakan bagi personel kebakaran itu sendiri.  Jenis pemadan CO2  ini juga tidak boleh digunakan untuk kebakaran bahan logam atau metal.

III. Halon (bromochlorofluoromethane BCF type) extinguishers, Warna Hijau

Alat pemadam ini menggunakan gas Halon sebagai bahan pemadam.  Alat pemadam jenis ini digunakan di pabril, laboratorium atau area workshop dimana terdapat kemunkinan minyak dan bahan mudah terbakar. Tapi jenis pemadan ini tidak bias digunakan untuk area-area dimana terdapat peralatan elektronik. Jenis pemadam ini dikembangkan untuk memadam kebakaran pada pesawat udara. Alat pemadam ini mengeluarkan uap dan gas yang menyelimuti api dan menyingkirkan oksigen sehingga dapat memadamkan api. Atom Bromin merupakan terminator dari proses oksidasi yang terjadi pada saat kebakaran. Salah satu kelemahan dari jenis pemadam ini adalah jika terdapat logam yang terbakar maka BCF dapat terdegradasi dan membentuk hydrogen halide yang bersifat beracun dan korosif. Jika digunakan pada area confine space maka diperlukan ventilasi yang cukup.

IV.    Powder extinguishers (gas cartridge type), Warna Biru

Jenis pemadam ini mengandung serbuk kering yang bersifat inert seperti serbuk silica yang dicampur dengan serbuk sodium bikarbonat. Serbuk dipompa keluar tabung dengan bantuan gas karbon dioksida yang berasal dari catridge. Serbuk yang dikeluarkan akan menyelimuti bahan yang terbakar sehingga memisahkan oksigen yang merupakan salah satu kompenen kebakaran. Adanya karbon dioksida juga akan menyingkirkan oksigen sehingga dapat memadamkan api. Sangat tidak disarankan untuk digunakan pada area yang terdapat peralatan produksi atau instrument produksi yang sangat bernilai, karena serbuk-serbuk pemadam dapat merusak komponen-komponen peralatan tersebut.

V. Foam extinguishers (gas cartridge type), Warna Krem

Jenis pemadam  ini menggunakan bahan kimia yang dapat membentuk busa yang stabil dan didorong dengan karbon dioksida pada saat keluar dari tabung. Foam yang keluar akan menyelimuti bahan yang terbakar sehingga dapat memadamkan api karean oksigen tidak bisa masuk untuk proses kebakaran. Jenis pemadam ini dapat digunakan pada area dimana jenis pemadam air tidak bisa digunakan. Seperti pada area yang terdapat minyak yang tidak bisa bercampur dengan air.

 sumber http://healthsafetyprotection.com/jenis-jenis-alat-pemadan-portable-portable-fire-extinguisher/